Dalam banyak diskusi dengan beberapa teman perempuan di luar Nias maupun dari suku-suku lain di dalam dan di luar negeri (beberapa orang telah menikah) terkadang terlontar ungkapan: “Segala cara telah saya tempuh, tetapi tidak membuahkan hasil.” Ini dialami juga oleh kaum hawa di negara maju, dengan kandungan masalah yang juga tidak jauh menyimpang dari yang kita alami. Mereka menyatakannya dengan kesungguhan yang bagi orang lain mungkin belum maksimal. Kami terlibat dalam diskusi panjang lebar dengan melihat dari sisi pengalaman kami masing-masing.
Dari diskusi itu, saya melihat relevansinya sebagai perempuan Nias yaitu bahwa kita bisa melakukan karya nyata di lingkungan sosial kita dalam bentuk apa pun bila kita memiliki:
Niat dan motivasi
Hal ini mencakup keinginan kita di masa lampau, masa kini dan masa depan yang ingin diwujudkan apakah untuk jadi manejer, pegawai bank, pegawai negeri, bertani, berdagang, sekolah tinggi, menikah setelah lulus sekolah, memiliki anak, keliling dunia, dll. Inilah landasan pertama, sehingga di kemudian hari sangat ampuh menguap, karena dilakukan berdasarkan keputusan sendiri.
Uang
Kita sadar bahwa banyak hal yang ingin kita lakukan karena modal uang. Memang uang bukanlah segalanya, tetapi inilah fakta keseharian bahwa uanglah yang mengatur kelancaran segala usaha. Untuk mendapat modal uang bisa dilakukan dengan berbagai macam cara, yang penting sah menurut pandangan dan prinsip kita sendiri. Pada saat tertentu, ada yang goyah karena berbenturan dengan perubahan pandangan (faktor pengalaman, religius, umur dll).
Ada juga yang tetap tidak bergeming dan karena pandangan dan peniliannya tidak berubah. Modal uang memegang peranan penting dalam interaksi dan transaksi. Harus dipertimbangkan dengan benar, apakah usaha yang anda lakukan membutuhkan modal awal yang besar atau rendah dengan berbagai kemungkinan resiko. Dan biasanya, semakin tingginya modal awal, semakin tinggi resikonya. Semakin lama jangka waktu penanaman modal, tingkat resikonya variatif, tetapi tujuannya untuk jangka panjang. Semakin sedikit modal uang yang dibutuhkan, resikonya semakin tidak berat, tetapi keuntungan dalam rentang waktu bervariasi. Memang ada juga manfaat yang langsung dipetik bersamaan dengan waktu pengeluaran modal. Jadi kita pilih sesuai dengan kebutuhan.
Keahlian
Proses ini bertahap dan memerlukan waktu. Maka perlu mempersiapkan keahlian dan mengembangkan potensi untuk menunjang kehidupan di masa depan. Keahlian itu tetap kekal menjadi milik kita dan sangat bernilai tinggi jika tetap diasah.
Kemampuan
Hal ini sengaja saya urutkan dan meletakkannya di bawah uang dan keahlian, karena ternyata dalam banyak diskusi, kemampuan cenderung lumpuh bila tidak diawali dengan faktor 2 dan 3. Hanya, kita tidak boleh merendahkan kemampuan diri sendiri. Kita perlu sedikit lebih berani atau sedikit lebih gila untuk berpindah haluan. Misalnya, jangan ragu bila niat dan motivasi yang membuahkan keputusan pribadi sudah ada di tangan. Dalam banyak kasus, perempuan Nias yang berani mengambil keputusan spektakuler di lingkungannya banyak yang berhasil.
Kesempatan
Kesempatan mengeluarkan suara terkadang tidak jelas kedengarannya, tetapi pasti datang sekalipun tidak disengaja atau sudah diduga demikian atau bahkan berseliweran silih berganti. Kita tidak perlu ragu mengambil kesempatan yang memang ada manfaatnya. Perlu melakukan diskusi dengan banyak orang yang layak dan tepat untuk memberi saran. Untuk membina pola pikir yang baik, perlu pendidikan minimal pendidikan dasar sembilan tahun. Kita harus merebut kesempatan yang ada manfaat dan pengaruhnya di kemudian hari, karena kesempatan tersebut biasanya tidak akan berulang. Kaum perempuan perlu berpikir ekstra mempertimbangkan kesempatan yang ada di depan mata, karena resikonya besar, kecuali kalau faktor resiko diabaikan atau ‘gambling’ liat-liat nantilah.
Dukungan
Umumnya perempuan Nias tidak mudah mendapat dukungan karena faktor budaya. Pola pikir dan bicara jarang diasah dan dilatih di dalam keluarga untuk berani mengemukakan pendapat. Juga sering dihubungkan dengan faktor sosok lahiriah dan pendidikan. Memang ada banyak faktor lain yang bisa diungkapkan, namun hal tersebut di atas lebih disorot karena dapat diubah dan dipoles oleh yang bersangkutan.
Dalam diskusi dengan teman-teman terungkap juga bahwa mengubah image diri tanpa mengubah esensial nilai positip dari diri sendiri sangat ampuh untuk menarik dukungan mulai dari orang terdekat hingga kalangan luar. Orang sedikit lebih permisif, misalnya budayanya demikian, jadi menarik simpatik bila anda terlebih dahulu memahami budaya orang lain. Pola pikir akan bermetamorfosis seiring dengan pengalaman pribadi, demikian pula dengan cara berbicara. Sosok lahiriah ada yang bisa diubah, ada yang pakemnya demikian (sudah terlahir dari sononya), jadi kita harus bijaksana dengan hal ini agar tidak mengundang cibiran. Penghinaan terhadap sosok lahiriah akan membantu kita untuk mengetahui bahwa orang tersebut tidak akan mendekati kita. Pendidikan akademis sudah pasti mengubah pola pikir, tetapi pendidikan moral sangat tidak dipengaruhi oleh pendidikan akademis.
Jika usaha di atas telah kita lakukan, namun belum berhasil, pasti masih ada yang kurang. Dan karena itu kita masih belum punya kuasa.
Media Warisan Edisi No. 39 Tahun IV April 2004
Penulis: Noniawati Telaumbanua
Penulis buku dan Peneliti