Arsip untuk ‘Budaya’ Kategori

Fahombo Batu “Tiada duanya di Dunia, Hanya di Nias Ada”

Agustus 1, 2003

Pendahuluan

Melompat batu ‘fahombo batu‘ telah menjadi salah satu cirikhas masyarakat Nias. Banyak orang luar yang mengingat atau membayangkan Nias dengan lompat batu, sehingga ada juga yang mengira bahwa semua orang Nias mampu melompat batu yang disusun hingga mencapai ketinggian 2 m dengan ketebalan ! 40 cm.

Lompat batu merupakan tradisi masyarakat Nias Selatan, khususnya Telukdalam. Tradisi ini tidak biasa dilakukan oleh masyarakat Nias di wilayah lain, dan hanya kaum laki-laki yang melakukannya. Hal ini juga telah menjadi indikasi perbedaan budaya nenek moyang atau lelehur masyarakat Nias. Yang harus diketahui lagi, tidak pernah ada perempuan Nias yang melompat batu.

(more…)

Rumah Adat Nias ‘Omo Niha’ Dari Tahun ke Tahun Semakin Berkurang

Februari 1, 2003

Salah satu bukti material kejayaan kultur para leluhur masyarakat Nias adalah rumah adat ‘Omo hada’ atau ‘Omo Niha’ dengan berbagai tipe yang masih bisa kita lihat sampai sekarang ini. Keindahan dan keagungan arsitektur rumah adat Nias telah menarik minat para peneliti luar negeri untuk mengetahui lebih dalam bagaimana konstruksi rumah-rumah tersebut. Rumah adat Nias memiliki filosofi dan merupakan simbol untuk menya-mpaikan berbagai pesan moral kepada generasi ke generasi.

Konstruksi rumah adat Nias yang ramah lingkungan semakin indah dan mengagumkan dengan batu-batu megalit yang disusun di depannya dalam satu pola desa yang tertata rapi. Itulah yang menambah pesona rumah adat Nias.

Keagungan dan keindahan tersebut semakin hari semakin meluntur dan menghilang, berhubung karena jumlahnya yang dari tahun ke tahun semakin berkurang dengan berbagai penyebab.
(more…)

Mengajarkan Budaya dan Seni Pertunjukan Keberlanjutan Tradisi Nias di Sekolah

Februari 1, 2002

Pendahuluan

Kekuatiran berbagai kalangan terutama yang menaruh perhatian pada pelestarian budaya sebagai suatu identitas suku bangsa, senantiasa teratasi dengan keluarnya Undang-undang Otonomi Daeah No. 22 Tahun 1999. Daerah diberikan kewenangan untuk mempertahankan dan mengembangkan seni budayanya menjadi sesuatu yang produktif, atraktif dan bernilai ekonomis.

Untuk memacu peningkatan pendapatan daerah di sektor kepariwisataan, maka budaya merupakan asset yang potensial jika dikemas menjadi atraksi yang memiliki pasar. Hal ini tidak berarti bahwa kebudayaan dikembangkan hanya karena alasan pariwisata saja yang mengarah pada kesesuaian selera konsumen, tetapi dikemas menjadi simbol identitas dan jati diri suku bangsa yang unik, sehingga mempunyai daya tarik, ingin dilihat dan dihargai oleh bangsa-bangsa lain yang ada di dunia.

(more…)

Adat Orang Nias Dalam Kehidupan Sehari-hari

Desember 1, 2001

A. Pendahuluan

Pemberian salam kepada sesama sangat tinggi nilainya terhadap satu dengan yang lain. Bila seseorang tidak bersapaan atau memberi salam kepada yang lain, maka diantara kedua belah pihak sudah terjadi disintegrasi sosial yang mungkin disebabkan oleh sifat, gaya, cara jalan, tutur bahasa, cara berpakaian atau penataan rambutnya yang kurang diterima oleh kebanyak orang. Jika sifat diatas tidak ada maka relasi mereka menjadi lebih akrab sehingga setiap bertemu selalu menyapa dengan ucapan “Ya’ahowu” yang dilanjutkan dengan kata “Yae nafoda” atau bologö dödöu, lö afoda” (ini sirih kita atau maaf kita tidak punya sirih). Dalam situasi tersebut kedua belah pihak saling memakan sirih. Setelah itu baru diakhiri dengan salam kembali dan kata “ya’ami ba lala” (selamat jalan) sebagai kata perpisahan.

B. Beberapa kebiasaan mendasar

1. Persiapan Orang yang hendak bertamu

Wanita yang sudah dinamai “Si no lafatö turu” atau “sino lafotu” (sudah berkeluarga dengan tahap-tahap adat) pergi bertamu baik kepada orang yang sudah dikenal maupun kepada orang yang belum dikenal selalu mempersiapkan diri dari rumah berupa penghormatan. Sebelum berangkat dari rumah bila seorang bapak yang pergi dia mengatakan kepada istrinya “biz(d)i nafogu ua” (persiapkan sirih saya dulu), saya mau pergi kepada Ama Warisan. Lalu ibu mempersiapkan sirih dan memberikanya di “Naha nafo” (Kempit sirih). Setelah siap dipersiapkan baru bapak mengambil dan disimpannya dalam kantongnya.

(more…)