<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>BULETIN MEDIA WARISAN</title>
	<atom:link href="http://mediawarisan.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mediawarisan.wordpress.com</link>
	<description>Sarana Komunikasi Budaya dan Informasi Nias</description>
	<pubDate>Thu, 02 Aug 2007 13:52:11 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=MU</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Sowanua dan Nadaoya Manusia Pertama Penghuni Pulau Nias?</title>
		<link>http://mediawarisan.wordpress.com/2007/08/02/sowanua-dan-nadaoya-manusia-pertama-penghuni-pulau-nias/</link>
		<comments>http://mediawarisan.wordpress.com/2007/08/02/sowanua-dan-nadaoya-manusia-pertama-penghuni-pulau-nias/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Aug 2007 13:52:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Media Warisan</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://mediawarisan.wordpress.com/2007/08/02/sowanua-dan-nadaoya-manusia-pertama-penghuni-pulau-nias/</guid>
		<description><![CDATA[Sowanua atau Bela
          Sowanua yang berarti makhluk halus yang berdiam di atas pohon-pohon raksasa lebih dikenal oleh masyarakat di Nias Selatan khususnya Telukdalam hingga kini. Di Nias Utara, tengah dan Barat menyebut makhluk halus tersebut Bela atau Ono Mbela (anak Bela). Namun Sowanua dalam pengertian penduduk asli, secara umum dipahami di seluruh pulau Nias. 
          [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Sowanua atau Bela</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>Sowanua</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> yang berarti makhluk halus yang berdiam di atas pohon-pohon raksasa lebih dikenal oleh masyarakat di Nias Selatan khususnya Telukdalam hingga kini. Di Nias Utara, tengah dan Barat menyebut makhluk halus tersebut <em>Bela</em> atau <em>Ono Mbela</em> (anak <em>Bela</em>). Namun <em>Sowanua</em> dalam pengertian penduduk asli, secara umum dipahami di seluruh pulau Nias. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>Banyak sekali catatan hitam mengenai <em>Sowanua</em> atau <em>Bela</em> dalam kaitannya dengan makhluk halus. Diceritakan bahwa mereka ini tinggal di atas pohon-pohon raksasa seperti pohon beringin (<em>Eho, Ewo, Eo, Awöni</em>) atau pohon <em>Böwö</em>. Jadi boleh di katakan bahwa di mana ada hutan lebat, di situlah habitat <em>Sowanua</em> atau <em>Bela</em> berkembang. Kebiasaan mereka untuk tinggal di atas pohon, bisa jadi ada hubungannya dengan nama-nama kampung tua seperti <em>Tetegewo</em>, <em>Sisobamböwö, Hiligeho</em> atau nama kerajaan <em>Teteholi Ana&#8217;a</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>Masih dipercayai juga oleh masyarakat Nias dulu bahwa <em>Sowanua</em> atau <em>Bela</em> merupakan pemilik atau penguasa segala marga satwa (<em>Sokhö utu ndru&#8217;u</em>), misalnya: babi hutan, kijang, rusa kancil, landak, tenggiling, berbagai unggas dan lain-lain). Babi hutan merupakan babi piaraan mereka. Oleh karenanya para pemburu satwa (<em>Sialu/si möi malu</em>), sebelum melakukan perburuan, mereka harus minta izin dari <em>Sowanua </em>sebagai pemilik segala marga satwa tersebut. Kepada mereka diberi persembahan (<em>Be&#8217;elö/fasömbata</em>) agar mereka dapat mengizinkan para pemburu untuk mengambil atau memburu satwa piaraannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>Persembahan dilakukan dalam bentuk ritus dengan menyembelih seokor babi. Juga diberikan telur atau ayam, sirih dan lempengan-lempengan kuningan atau logam, pengganti emas sebagai penghormatan bagi mereka yang tinggal di atas pohon (<em>sumange zi so ba hogu geu</em>). <em>Sowanua</em> dikategorikan sebagai dewa hutan yang bertakhta di atas pohon (<em>salawa hogu geu</em>). Mereka juga kadang dilukiskan sebagai leluhur orang jahat (<em>uwu gafökha</em>).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>Juga diceritakan bahwa <em>Sowanua</em> berkulit putih dan mulus. Mereka cantik-cantik dan memiliki pengetahuan membuat api dari kayu (<em>fuyu</em>) atau dari batu api (<em>batu alitö</em>). Dari mereka sumber keahlian pembuatan api.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>Cerita-cerita yang lebih seram lagi mengenai <em>Sowanua</em> atau <em>Bela</em> adalah ketika perempuan tinggal seorang diri di hutan atau di kebun yang sepi, bisa saja secara tiba-tiba dan tak sadar disembunyikan atau dibawa lari oleh <em>Sowanua. </em>Menurut cerita, orang yang dibawa oleh <em>Sowanua</em>, tiba-tiba hilang kesadarannya. Ia bisa melihat dan berkomunikasi dengan <em>Sowanua</em> yang menculiknya, namun tidak dapat berkomunikasi dengan manusia biasa. Orang yang diculik oleh <em>Sowanua</em> masih bisa pulang dan kembali<span>  </span>menjadi manusia normal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span></span><span id="more-13"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Karena itu ada beberapa larangan dari orang-orangtua di Nias, misalnya: dilarang duduk atau tidur di bawah pohon besar, supaya tidak kena air kencing dari <em>Bela (Sowanua)</em> yang menimbulkan rasa gatal pada kulit. Anak-anak kecil atau bayi tidak boleh ditinggal sendirian di tempat yang sunyi, supaya tidak diculik oleh <em>Bela</em>. Anak-anak tidak boleh bermain sembunyi-sembunyi pada malam hari. Perempuan tidak boleh tidur sendirian di kebun atau di hutan yang sepi dan kalau terpaksa tidur, tidak boleh terlentang, katanya bisa disetubuhi oleh <em>Sowanua</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>Di desa-desa di pedalaman di Nias kita mendengar ceritera mengenai orang-orang yang pernah diculik oleh <em>Sowanua</em>, namun mereka kemudian kembali karena orang banyak (keluarga) mencarinya di hutan dengan cara memberi sesajen kepada <em>Bela</em> dan melakukan upacara ritual.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>Konon ceritanya, jika bersama-sama dengan <em>Sowanua</em>, kita bisa berjalan ke mana saja dengan cepat bagaikan dibawa oleh angin. Kita tidak dapat dilihat oleh manusia biasa padahal kita dapat melihat dan mendengar suara mereka. Jika mereka memanggil-manggil nama kita, kita mendengarnya dan kita juga menjawab dengan teriakkan namun manusia biasa tidak dapat mendengarnya. Kita bagaikan berada dalam alam mimpi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Setelah diberikan persembahan untuk meminta kepada <em>Sowanua</em> agar mengembalikan orang yang telah diculiknya kita baru mulai sadar, bisa didengar dan dilihat oleh orang lain yang sedang mencari kita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Arti kata Sowanua dan Bela</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span><em>Sowanua</em> berasal dari dua kata yaitu <em>So</em> dan <em>Banua</em> (<em>wanua</em>). Ada dua arti <em>so</em> yaitu: <em>ada</em> dan <em>pemilik </em>atau <em>penguasa</em>. <em>Banua</em> (<em>wanua</em>) juga mempunyai dua arti yaitu: <em>desa (kampung)</em> dan <em>langit</em> (<em>angkasa</em>). Jadi <em>Sowanua</em> bisa berarti penduduk asli atau tuan rumah yaitu orang yang sudah kian ada pada suatu tempat sebelum orang lain datang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Di Nias Selatan (Telukdalam) &#8216;<em>Bela</em>&#8216; berarti kawan atau sebutan yang menunjukkan tali persahabatan atau perkawanan. Tujuan penyebutan itu adalah untuk menjalin keakraban dan menghindari permusuhan. Sedangkan di wilayah Nias yang lain <em>Bela</em> berarti makhluk halus yang bertempat tinggal di atas pohon.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>Cerita yang lebih menarik lagi adalah bahwa <em>Sowanua </em>atau <em>Bela</em> memiliki keturunan. Tapi tidak begitu ditonjolkan dalam penuturan sejarah asal usul masyarakat Nias. Kalau diselidiki pasti masih terdapat keturunan <em>Sowanua</em> atau <em>Bela</em> di Nias. Hanya kesulitannya adalah tidak ada yang mengaku bahwa mereka adalah keturunan <em>Sowanua</em>. Apalagi karena telah terjadi pembauran terutama melalui perkawinan di antara grup-grup etnis yang berbeda beda di Nias sejak zaman dulu ketika <em>Bela</em> masih dominan. Pasti masih ada juga orang yang bisa menceritakan eksistensi <em>Sowanua</em> dan siapa saja yang termasuk dalam keturunannya, akan tetapi tidak berani menceritakannya karena bisa merusak kerukunan antar etnis. Mereka menjaga rasa sensitivitas. Tidak mau membuat orang lain tersinggung atau direndahkan karena asal-usul, sehingga lama-kelamaan pula, perbedaan etnis itu sangat sulit diidentifikasi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Sowanua dan Manusia Purba</span></em></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>Dari cerita di atas kita boleh menyimpulkan bahwa <em>Sowanua</em> bisa jadi bukanlah makhluk halus atau setan, tetapi merupakan sisa-sisa manusia purba yang sangat primitif dan masih menyatu dengan alam. Kemudian oleh etnis yang datang berikutnya menyebut mereka <em>Sowanua</em> atau <em>Bela</em>. Dari nama itu, kita bisa menyimpulkan lagi bahwa mereka adalah manusia yang telah duluan ada di pulau Nias jauh sebelum etnis berikutnya datang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>Sebutan <em>Sowanua</em> maupun <em>Bela</em> merupakan bukti pengakuan dan penghormatan pendatang bagi manusia-manusia primitif tersebut. Lama-kelamaan, zaman dan manusia semakin maju, lalu manusia primitif yang kalah bersaing dengan para pendatang baru yang memiliki berbagai keahlian dan pengetahuan, tidak berkembang lagi. Mereka semakin terdesak dan termarjinalkan sehingga mereka pun dianggap sebagai makhluk halus atau setan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>Jika kita menerima bahwa <em>Sowanua</em> atau <em>Bela</em> merupakan grup manusia yang telah mendiami pulau Nias sebelum datangnya etnis-etnis lain yang menamakan dirinya sebagai manusia tulen &#8220;<em>Niha</em>&#8221; atau &#8216;<em>Ono Niha</em>&#8221; (anak manusia) dengan membawa<span>  </span>pengetahuan dan keahlian dari negeri asalnya di seberang sehingga mereka membawa pembaharuan dan kemajuan di Nias sebagaimana dikemukakan oleh Pastor Johannes (2001: 210), maka kita bisa menyimpulkan bahwa <em>Sowanua</em> atau <em>Bela</em> merupakan salah satu grup manusia purba yang sangat primitif di Nias dan merupakan salah satu grup leluhur masyarakat Nias.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>Menurut informasi dari para informant Pastor Johannes (2001:50) bahwa terdapat 3 grup etnis yang berbeda di Nias, yaitu: (1) <em>Niha</em> <em>Sebua</em> <em>Gazuzu</em>, yaitu manusia yang memiliki kepala besar dan merupakan cirikhas manusia purba ribuan tahun yang lalu serta hidup di dalam gua sehingga mereka disebut manusia dari bawah tanah (<em>soroi tou</em>); (2) <em>Niha</em> <em>Safusi</em> yaitu grup manusia yang berkulit putih dan cantik yang berhabitat di atas pohon-pohon; (3) <em>Lani Ewöna</em> (sindruhu niha) yaitu manusia tulen yang datang dari seberang dengan keahlian dan pengetahuan yang memadai sehingga mereka memiliki pengaruh besar dan membawa perubahan di Nias. Grup etnis inilah yang kemudian dianggap sebagai leluhur masyarakat Nias dan menyebut diri sendiri sebagai <em>Niha</em> (manusia tulen) atau <em>Ono Niha</em> (anak manusia).</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Nadaoya</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>Salah satu makhluk yang mungkin telah hidup bersamaan zaman dengan <em>Sowanua</em> sebagaimana dikemukakan di atas adalah manusia yang memiliki kepala besar yang tinggal di bawah tanah (<em>barö danö</em>) dalam pengertian di dalam gua. Berdasarkan ilmu arkeologi, sosiologi atau antropologi, manusia purba tinggal di dalam gua. Gua menjadi rumah mereka dan hidup sesuai dengan kondisi alam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>Dalam kepercayaan dan tradisi lisan Nias, sering diceritakan mengenai <em>Nadaoya</em> sebagai makhluk jahat atau setan raksasa (<em>bekhu sebua</em>). Suaranya besar sekali dan hanya satu-satu. Kalau mereka lewat dan bersentuhan dengan manusia, mereka langsung memangsanya dan manusia tersebut mati. Dikatakan juga bahwa <em>Nadaoya</em> tinggal di lembah-lembah yang dalam dan gelap serta di tebing sungai yang tinggi dan terjal. Habitat yang dimaksud menjurus pada gua-gua.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>Mereka sungguh-sungguh jahat. Karena itu masyarakat Nias sangat takut menyebut nama <em>Nadaoya</em> apalagi kalau penyebutan itu karena hendak mengutuk seseorang dengan mengatakan: <em>ya mu&#8217;a ö Nadaoya/ya mana ndraugö Nadaoya</em> (Semoga <em>Nadaoya</em> mamangsa engkau).<span>  </span>Ini ungkapan keras dan ditakuti orang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>Kalau kita mengkaji asal-usul masyarakat Nias, lalu kita menghubungkannya dengan bukti-bukti material dan tradisi lisan sebagaimana diceritakan di atas, maka pantas diduga dan membuka kemungkinan bahwa <em>Nadaoya</em> merupakan grup manusia purba yang berhabitat di dalam gua dengan ciri khas kepala besar, primitif dan menganut hukum rimba. Mereka juga sudah hadir di pulau Nias sebelum kedatangan etnis lain. Dengan demikian, mereka bukanlah setan raksasa. Mereka semakin ganas karena terpojok dan tidak memiliki tempat lagi untuk berkembang, karena alam telah dirusak oleh manusia yang memiliki pengetahuan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>Tulisan-tulisan lama dan otentik mengenai masyarakat Nias seperti ditulis oleh Pastor Johannes (2001:13-19) lebih banyak menguraikan munusia yang berkulit putih dan cantik-cantik yang berhabitat di atas pohon atau di puncak-puncak gunung. Juga dijelaskan kebiasaan berburu kepala manusia oleh penduduk setempat. Tetapi mengenai manusia yang tinggal di dalam gua-gua kurang disentuh.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Kepunahan Manusia Purba</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Ada beberapa penyebab mengapa manusia purba di Nias menjadi punah, misalnya:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>1.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Hukum rimba</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Manusia purba menganut hukum rimba. Siapa yang kuat, dialah yang yang hidup dan berkembang. Ketika etnik lain sebagai pendatang baru di Nias dengan berbagai pengetahuan dan keahlian datang, mereka jelas jauh lebih kuat dari para penghuni pulau Nias yang terdahulu. Sebab, mereka tidak hanya mengandalkan otot dalam menguasai alam untuk mempertahankan hidup, tetapi juga otak. Hukum rimba ini terlihat dari kebiasaan mereka berburu kepala manusia, sehingga kelompok yang lemah menjadi habis (punah). Selain berburu kepala manusia (<em>mangai högö</em>), permusuhan dan peperangan antar kelompok (kampung) sering terjadi, sehingga<span>  </span>yang kuat bertahan hidup dan yang lemah menjadi punah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Sisanya mengasingkan diri dan termajinalkan karena kalah bersaing dalam pembangunan dan pengembangan hidup. Mereka hanya mengadalkan alam yaitu hutan sebagai sumber kehidupan mereka. Mereka tidak dapat menyesuaikan diri dengan kondisi yang selalu berubah dan berkembang. Permusahan dan peperangan itu bisa juga terjadi karena perbedaan etnik. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>2.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Hutan habis</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Berhubung karena manusia purba seperti kelompok <em>Sowanua</em> dan <em>Nadaoya</em> bergantung pada alam, ketika alam rusak dan hutan habis dibabat secara liar, maka habitat mereka semakin terjepit. Tidak ada tempat dan sumber makanan untuk dapat bertahan hidup. Maka mereka tidak berkembang.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>3.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Pembauran melalui perkawinan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Di antara kelompok manusia yang telah kian ada dengan pendatang baru, pasti telah terjadi perkawinan. Apa lagi seperti dijelaskan sebelumnya bahwa kelompok <em>Sowanua</em> itu cantik-cantik. Sudah barang tentu mereka dikawini secara suka atau tidak suka oleh pendatang yang lebih pintar. Mereka bagaikan gadis desa yang lugu tetapi cantik yang selalu menjadi incaran para pria dari kota sebagaimana terjadi pada zaman sekarang. <span>     </span>Keturunan mereka tidak lagi disebut sebagai grup <em>Sowanua/Bela</em> atau <em>Nadaoya</em>, akan tetapi mengikuti garis keturunan kelompok manusia yang lebih berpengaruh dan berkuasa. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Darimanakah asalnya Sowanua dan Nadaoya?</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>Jika <em>Sowanua</em> dan <em>Nadaoya</em> adalah penghuni terdahulu pulau Nias, itu berarti bahwa keturunan mereka pasti masih ada sampai sekarang, walaupun mereka tidak lagi murni sebagai keturunan itu karena telah terjadi percampuran melalui proses perkawinan dengan etnis lain sejak ratusan tahun yang lalu. Untuk menyelidiki asal usul masyarakat Nias, maka harus ditelusuri dari mana asal <em>Sowanua</em> dan <em>Nadaoya</em>. Karena mereka-lah kelompok terbesar dan terdahulu yang menghuni pulau Nias. Hal inilah yang belum dilakukan oleh para peneliti. Mungkin bisa dijejaki melalui studi comparative linguistics atau penelitian DNA terhadap kelompok yang diduga sebagai asal-usul mereka dari luar negeri (Suku Belah di Sumatera, Suku Naga di India, dll) sebagaimana dikemukakan oleh Pastor Johannes.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Penelitian di Gua Tögi Ndrawa</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>Penelitian Museum Pusaka Nias bekerjasama dengan Drs. Yusuf Ernawan, M.Hum, ahli prasejarah dari Universitas Airlangga Surabaya di gua Tögi Ndrawa, desa Lelewönu Niko&#8217;otanö, kecamatan Gunungsitoli membuktikan bahwa gua tersebut telah dihuni oleh manusia purba sekitar 9000 tahun yang lalu, persis dari tahun 7570 ke 7145 SM (Lingua Nias, Media Warisan Edisi 39 hal 5). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>Penelitian melalui ekskavasi dilanjutkan lagi oleh Badan Arkeologi Medan yang telah tiga kali melakukan ekskavasi sedalam 283 cm pada gua yang sama. Hasil dating penelitian ini masih ditunggu. Namun para ahli berasumsi bahwa gua tersebut telah dihuni sekitar 15.000 tahun yang lalu pada zaman Hoa Binh.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Penutup</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>Tradisi lisan Nias yang didukung oleh hasil penelitian tersebut dapat dijadikan sebagai indikasi dan dasar untuk menarik kesimpulan bahwa ada beberapa etnis yang berbeda di Nias. Yang terdahulu di antara mereka adalah kelompok <em>Sowanua yang berhabitat di atas pohon dan grup Nadaoya dll (Laturedanö, Tuhanaröfa, Lowalani, Zihi, Sihambula) yang tinggal di dalam gua (arö danö). </em>Sementara kelompok yang datang kemudian adalah etnis Cina dan etnis lain yang memulai perubahan dan perkembangan di pulau Nias karena pengetahuan dan keahlian yang telah mereka miliki dari negeri asalnya. Jadi anggapan bahwa <em>Nadaoya</em> dan <em>Sowanua</em> atau <em>Bela</em> adalah setan merupakan pemahaman manusia modern yang dangkal terhadap manusia purba yang hidupnya sangat primitif.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Penulis: <strong>Nata’alui Duha, S.Pd</strong>.</span></p>
<p align="right"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Wakil Direktur Museum Pusaka Nais</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/mediawarisan.wordpress.com/13/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/mediawarisan.wordpress.com/13/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mediawarisan.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mediawarisan.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mediawarisan.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mediawarisan.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mediawarisan.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mediawarisan.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mediawarisan.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mediawarisan.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mediawarisan.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mediawarisan.wordpress.com/13/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mediawarisan.wordpress.com&blog=1420810&post=13&subd=mediawarisan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mediawarisan.wordpress.com/2007/08/02/sowanua-dan-nadaoya-manusia-pertama-penghuni-pulau-nias/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Peluang dan Potensi Perempuan Nias Sebuah Tantangan</title>
		<link>http://mediawarisan.wordpress.com/2007/08/02/peluang-dan-potensi-perempuan-nias-sebuah-tantangan/</link>
		<comments>http://mediawarisan.wordpress.com/2007/08/02/peluang-dan-potensi-perempuan-nias-sebuah-tantangan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Aug 2007 13:46:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Media Warisan</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://mediawarisan.wordpress.com/2007/08/02/peluang-dan-potensi-perempuan-nias-sebuah-tantangan/</guid>
		<description><![CDATA[          Dalam banyak diskusi dengan beberapa teman perempuan di luar Nias maupun dari suku-suku lain di dalam dan di luar negeri (beberapa orang telah menikah) terkadang terlontar ungkapan: &#8220;Segala cara telah saya tempuh, tetapi tidak membuahkan hasil.&#8221; Ini dialami juga oleh kaum hawa di negara maju, dengan kandungan masalah yang juga tidak jauh menyimpang dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>Dalam banyak diskusi dengan beberapa teman perempuan di luar Nias maupun dari suku-suku lain di dalam dan di luar negeri (beberapa orang telah menikah) terkadang terlontar ungkapan: &#8220;Segala cara telah saya tempuh, tetapi tidak membuahkan hasil.&#8221; Ini dialami juga oleh kaum hawa di negara maju, dengan kandungan masalah yang juga tidak jauh menyimpang dari yang kita alami. Mereka menyatakannya dengan kesungguhan yang bagi orang lain mungkin belum maksimal. Kami terlibat dalam diskusi panjang lebar dengan melihat dari sisi pengalaman kami masing-masing.</span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom:0.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>Dari diskusi itu, saya melihat relevansinya sebagai perempuan Nias yaitu bahwa kita bisa melakukan karya nyata di lingkungan sosial kita dalam bentuk apa pun bila kita memiliki:</span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom:0.0001pt;line-height:normal;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></em></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom:0.0001pt;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Niat dan motivasi</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom:0.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>Hal ini mencakup keinginan kita di masa lampau, masa kini dan masa depan yang ingin diwujudkan apakah untuk jadi manejer, pegawai bank, pegawai negeri, bertani, berdagang, sekolah tinggi, menikah setelah lulus sekolah, memiliki anak, keliling dunia, dll. Inilah landasan pertama, sehingga di kemudian hari sangat ampuh menguap, karena dilakukan berdasarkan keputusan sendiri.</span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom:0.0001pt;line-height:normal;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></em></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom:0.0001pt;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Uang</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom:0.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>Kita sadar bahwa banyak hal yang ingin kita lakukan karena modal uang. Memang uang bukanlah segalanya, tetapi inilah fakta keseharian bahwa uanglah yang mengatur kelancaran segala usaha. Untuk mendapat modal uang bisa dilakukan dengan berbagai macam cara, yang penting sah menurut pandangan dan prinsip kita sendiri. Pada saat tertentu, ada yang goyah karena berbenturan dengan perubahan pandangan (faktor pengalaman, religius, umur dll). </span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom:0.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">        </span><span id="more-12"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Ada juga yang tetap tidak bergeming dan karena pandangan dan peniliannya tidak berubah. Modal uang memegang peranan penting dalam interaksi dan transaksi. Harus dipertimbangkan dengan benar, apakah usaha yang anda lakukan membutuhkan modal awal yang besar atau rendah dengan berbagai kemungkinan resiko. Dan biasanya, semakin tingginya modal awal, semakin tinggi resikonya. Semakin lama jangka waktu penanaman modal, tingkat resikonya variatif, tetapi tujuannya untuk jangka panjang. Semakin sedikit modal uang yang dibutuhkan, resikonya semakin tidak berat, tetapi keuntungan dalam rentang waktu bervariasi. Memang ada juga manfaat yang langsung dipetik bersamaan dengan waktu pengeluaran modal. Jadi kita pilih sesuai dengan kebutuhan.</span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom:0.0001pt;line-height:normal;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></em></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom:0.0001pt;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Keahlian</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom:0.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>Proses ini bertahap dan memerlukan waktu. Maka perlu mempersiapkan keahlian dan mengembangkan potensi untuk menunjang kehidupan di masa depan. Keahlian itu tetap kekal menjadi milik kita dan sangat bernilai tinggi jika tetap diasah.</span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom:0.0001pt;line-height:normal;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></em></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom:0.0001pt;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Kemampuan</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom:0.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>Hal ini sengaja saya urutkan dan meletakkannya di bawah uang dan keahlian, karena ternyata dalam banyak diskusi, kemampuan cenderung lumpuh bila tidak diawali dengan faktor 2 dan 3. Hanya, kita tidak boleh merendahkan kemampuan diri sendiri. Kita perlu sedikit lebih berani atau sedikit lebih gila untuk berpindah haluan. Misalnya, jangan ragu bila niat dan motivasi yang membuahkan keputusan pribadi sudah ada di tangan. Dalam banyak kasus, perempuan Nias yang berani mengambil keputusan spektakuler di lingkungannya banyak yang berhasil.</span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom:0.0001pt;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom:0.0001pt;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Kesempatan</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom:0.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>Kesempatan mengeluarkan suara terkadang tidak jelas kedengarannya, tetapi pasti datang sekalipun tidak disengaja atau sudah diduga demikian atau bahkan berseliweran silih berganti. Kita tidak perlu ragu mengambil kesempatan yang memang ada manfaatnya. Perlu melakukan diskusi dengan banyak orang yang layak dan tepat untuk memberi saran. Untuk membina pola pikir yang baik, perlu pendidikan minimal pendidikan dasar sembilan tahun. Kita harus merebut kesempatan yang ada manfaat dan pengaruhnya di kemudian hari, karena kesempatan tersebut biasanya tidak akan berulang. Kaum perempuan perlu berpikir ekstra mempertimbangkan kesempatan yang ada di depan mata, karena resikonya besar, kecuali kalau faktor resiko diabaikan atau &#8216;gambling&#8217; liat-liat nantilah.</span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom:0.0001pt;line-height:normal;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></em></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom:0.0001pt;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Dukungan</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom:0.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>Umumnya perempuan Nias tidak mudah mendapat dukungan karena faktor budaya. Pola pikir dan bicara jarang diasah dan dilatih di dalam keluarga<span>  </span>untuk berani mengemukakan pendapat. Juga sering dihubungkan dengan faktor sosok lahiriah dan pendidikan. Memang ada banyak faktor lain yang bisa diungkapkan, namun hal tersebut di atas lebih disorot karena dapat diubah dan dipoles oleh yang bersangkutan. </span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom:0.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>Dalam diskusi dengan teman-teman terungkap juga bahwa mengubah image diri tanpa mengubah esensial nilai positip dari diri sendiri sangat ampuh untuk menarik dukungan mulai dari orang terdekat hingga kalangan luar. Orang sedikit lebih permisif, misalnya budayanya demikian, jadi menarik simpatik bila anda terlebih dahulu memahami budaya orang lain. Pola pikir akan bermetamorfosis seiring dengan pengalaman pribadi, demikian pula dengan cara berbicara. Sosok lahiriah ada yang bisa diubah, ada yang pakemnya demikian (sudah terlahir dari sononya), jadi kita harus bijaksana dengan hal ini agar tidak mengundang cibiran. Penghinaan terhadap sosok lahiriah akan membantu kita untuk mengetahui bahwa orang tersebut tidak akan mendekati kita. Pendidikan akademis sudah pasti mengubah pola pikir, tetapi pendidikan moral sangat tidak dipengaruhi oleh pendidikan akademis.</span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom:0.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>Jika usaha di atas telah kita lakukan, namun belum berhasil, pasti masih ada yang kurang. Dan karena itu kita masih belum punya kuasa.</span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom:0.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:right;line-height:normal;" align="right"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Media Warisan Edisi No. 39 Tahun IV April 2004 </span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:right;line-height:normal;" align="right"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Penulis: <strong>Noniawati Telaumbanua</strong></span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:right;line-height:normal;" align="right"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Penulis buku dan Peneliti</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/mediawarisan.wordpress.com/12/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/mediawarisan.wordpress.com/12/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mediawarisan.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mediawarisan.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mediawarisan.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mediawarisan.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mediawarisan.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mediawarisan.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mediawarisan.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mediawarisan.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mediawarisan.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mediawarisan.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mediawarisan.wordpress.com&blog=1420810&post=12&subd=mediawarisan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mediawarisan.wordpress.com/2007/08/02/peluang-dan-potensi-perempuan-nias-sebuah-tantangan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Fahombo Batu &#8220;Tiada duanya di Dunia, Hanya di Nias Ada&#8221;</title>
		<link>http://mediawarisan.wordpress.com/2003/08/01/fahombo-batu-tiada-duanya-di-dunia-hanya-di-nias-ada/</link>
		<comments>http://mediawarisan.wordpress.com/2003/08/01/fahombo-batu-tiada-duanya-di-dunia-hanya-di-nias-ada/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Aug 2003 04:15:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Media Warisan</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>

		<category><![CDATA[Ni'era-eragu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mediawarisan.wordpress.com/2003/08/01/fahombo-batu-tiada-duanya-di-dunia-hanya-di-nias-ada/</guid>
		<description><![CDATA[Pendahuluan
          Melompat batu &#8216;fahombo batu&#8216; telah menjadi salah satu cirikhas masyarakat Nias. Banyak orang luar yang mengingat atau membayangkan Nias dengan lompat batu, sehingga ada juga yang mengira bahwa semua orang Nias mampu melompat batu yang disusun hingga mencapai ketinggian 2 m dengan ketebalan ! 40 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Pendahuluan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>Melompat batu &#8216;<em>fahombo batu</em>&#8216; telah menjadi salah satu cirikhas masyarakat Nias. Banyak orang luar yang mengingat atau membayangkan Nias dengan lompat batu, sehingga ada juga yang mengira bahwa semua orang Nias mampu melompat batu yang disusun hingga mencapai ketinggian 2 m dengan ketebalan </span><span style="font-size:10pt;font-family:'Math B';"><span>!</span></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> 40 cm.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>Lompat batu merupakan tradisi masyarakat Nias Selatan, khususnya Telukdalam. Tradisi ini tidak biasa dilakukan oleh masyarakat Nias di wilayah lain, dan hanya kaum laki-laki yang melakukannya. Hal ini juga telah menjadi indikasi perbedaan budaya nenek moyang atau lelehur masyarakat Nias.<span>  </span>Yang harus diketahui lagi, tidak pernah ada perempuan Nias yang melompat batu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span id="more-10"></span><br />
<span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span></span>Pada mulanya melompat batu, tidaklah seperti yang kita saksikan sekarang. Baik fungsi maupun cara penguasaannya. Dahulu melompat merupakan kombinasi olah raga dan permainan rakyat yang gratis, bukan tradisi komersial.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Uji kekuatan dan ketangkasan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>Melompat batu bukan sekedar konsumsi atau atrakasi pariwisata seperti kita lihat sekarang ini. Melompat batu merupakan sarana dan proses untuk menujukkan kekuatan dan ketangkasan para pemuda, sehingga memiliki jiwa heroik yang prestisius.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>Jika seorang putra dari satu keluarga sudah dapat melewati batu yang telah disusun berdempet itu dengan cara melompatinya,<span>  </span>hal<span>  </span>ini merupakan satu kebanggaan bagi orangtua dan kerabat lainnya bahkan seluruh masyarakat desa pada umumnya. Itulah sebabnya setelah anak laki-laki mereka sanggup melewati, maka diadakan acara syukuran<span>  </span>sederhana dengan menyembelih ayam atau hewan lainnya. Bahkan ada juga bangsawan yang menjamu para pemuda desanya karena dapat melompat batu dengan sempurna untuk pertama kalinya. Para pemuda ini kelak akan menjadi pemuda pembela kampungnya &#8216;<em>samu&#8217;i mbanua atau la&#8217;imba horö</em>,&#8217; jika ada konflik dengan warga desa lain.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Kedewasaan dan Kematangan Fisik</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>Melihat kemampuan seorang pemuda yang dapat melompat batu dengan sempurna, maka ia dianggap telah dewasa dan matang secara fisik. Karena itu hak dan kewajiban sosialnya sebagai orang dewasa sudah bisa dijalankan. Misalnya: menikah, membela kampungnya atau ikut menyerbu desa musuh dsb. Salah satu cara untuk mengukur kedewasaan dan kematangan seorang lelaki adalah dengan melihat kemampuan motorik di atas batu susun setinggi </span><span style="font-size:10pt;font-family:'Math B';"><span>!</span></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> 2 meter.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Teknis Penguasaan Tradisi lompat batu </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>Karena suatu kebanggaan, maka setiap pemuda tidak mau kalah dengan yang lain. Sejak umur sekitar 7-12 tahun atau sesuai dengan pertumbuhan seseorang, anak-anak laki-laki biasanya bermain dengan melompat tali. Mereka menancapkan dua tiang sebelah menyebelah, membuat batu tumpuan, lalu melompatinya. Dari yang rendah, dan lama-lama ditinggikan. Ada juga dengan bantuan dua orang teman yang memegang masing-masing ujung tali, dan yang lain melompatinya secara bergilir. Mereka bermain dengan semangat kebersamaan dan perjuangan.</span><!--more--></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>Untuk latihan dan permainan, sekumpulan anak laki-laki menumpuk tanah liat dan membentuknya seperti lompat batu, walaupun ketinggiannya tidak sama. Mulai dari satu meter. Setelah mampu melewati itu, maka mereka menumpuk tanah liat untuk menambah ketinggiannya. Permainan ini telah membuat anak-anak terbiasa melompat hingga dapat melompat batu setinggi dua meter dengan sempurna. Bahkan ada yang lebih. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>Agar lebih mahir, pada sore hari, ketika para pemuda desa pulang dari ladang, maka mereka beramai-ramai latihan melompat batu. Terlebih pada sore hari minggu atau hari besar lainnya. Melompat batu merupakan sarana olah raga dan permainan yang menyenangkan bagi mereka dan menarik perhatian penonton.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Tidak semua dapat melompat batu</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>Walaupun latihan terus, ternyata tidak semua laki-laki dapat melompat. Ada yang sangkut-sangkut terus. Bahkan ada juga yang sampai kecelakaan, misalnya patah lengan, kaki dll. Ada kepercayaan bahwa hal ini dipengaruhi oleh faktor genetika. Jika ayahnya atau kakeknya seorang pemberani dan pelompat batu, maka<span>  </span>d antara para putranya pasti ada yang dapat melompat batu. Kalau ayahnya dahulu adalah seorang pelompat batu semasih muda, maka anak-anaknya pasti dapat melompat walaupun latihannya sedikit. Bahkan ada yang hanya mencoba satu-dua kali, lalu, bisa melompat dengan sempurna tanpa latihan dan pemanasan tubuh.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>Kemampuan dan ketangkasan melompat batu juga dihubungkan dengan kepercayaan lama. Seseorang yang baru belajar melompat batu, ia terlebih dahulu memohon restu dan meniati roh-roh para pelompat batu yang telah meninggal.<span>  </span>Ia musti memohon izin kepada arwah para leluhur yang sering melompati batu tersebut. Tujuanya untuk menghindari kecelakaan atau bencana bagi para pelompat ketika sedang mengudara, lalu menjatuhkan diri ke tanah. Sebab banyak juga pelompat yang gagal dan mendapat kecelakaan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Konflik antar kampung</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>Dahulu, melompat batu merupakan kebutuhan dan persiapan untuk mempertahankan diri dan membela nama kampung. Apapun dikorbankan demi kehormatan pada kampung sendiri &#8216;<em>fabanuasa</em>.&#8217; &#8220;<em>Öndröra va banuasa, kiri-kiri mbambatö</em>.&#8221; Itulah motto dan prinsip dalam membela dan mempertahankan nama kampung. Artinya, rasa patriotis pada kampung lebih utama dari pada hubungan kekerabatan.<span>  </span>Kejadian pada salah seorang warga kampung, merupakan peristiwa pada seluruh warga. Misalnya: Jika salah seorang warga kampung A disakiti oleh warga desa B, maka warga desa A yang lain akan turut membalasnya. Demikian sebaliknya. Hal ini menjadi sumber konflik antar kampung yang penyelesaianya kompleks dan meninggalkan dendam kesumat &#8216;<em>horö manana.</em>&#8216; </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>Banyak penyebab konflik dan perang antar kampung. Misalnya: Masalah perbatasan tanah, perempuan dan sengketa lainnya. Hal ini mengundang desa yang satu menyerang desa yang lain, sehingga para prajurit &#8216;<em>samu&#8217;i</em>&#8216; yang ikut dalam penyerangan, harus memiliki ketangkasan melompat untuk menyelamatkan diri. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>Akan tetapi dahulu, ketika tradisi berburu kepala manusia &#8216;<em>mangai högö</em>&#8216; masih dijalankan, peperangan antar kampung juga sangat sering terjadi. Ketika para pemburu kepala manusia dikejar atau melarikan diri, maka mereka harus mampu melompat pagar atau benteng desa sasaran yang telah dibangun dari batu atau bambu atau dari pohon &#8216;<em>tali&#8217;anu</em>&#8216; supaya tidak terperangkap di daerah musuh.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Itu juga sebabnya desa-desa didirikan di atas bukit atau gunung &#8216;<em>hili</em>&#8216; supaya musuh tidak gampang masuk dan tidak cepat melarikan diri.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Benteng Desa</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>Ketangkasan melompat dibutuhkan karena dahulu setiap desa telah dipagar atau telah membuat benteng pertahanan yang dibuat dari batu, bambu atau bahan lain yang sulit dilewati oleh musuh. Ada juga yang menggali lubang di sekeliling perkampungan supaya musuh-musuh jatuh ke dalamnya ketika melarikan diri atau memasuki desa sasaran. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Benteng-benteng desa yang dulunya disusun dari batu, sudah tidak kelihatan lagi sekarang, karena keserakahan manusia. Diruntuhkan dan diambil sebagai bahan bangunan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>Para pemuda yang kembali dengan sukses dalam misi penyerangan desa lain, akan menjadi pahlawan di desanya. Jika mereka menang dan tidak ada yang tewas di antara mereka, maka menjelang tiba di kampung, dekat gerbang desa &#8216;<em>bawagöli</em>,&#8217; mereka berarak dan berteriak sembari melagukan &#8220;Hoho&#8221; kemenangan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Atraksi Pariwisata</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>Sekarang ini, sisa<span>  </span>dari tradisi lama itu, telah menjadi atraksi pariwisata yang spektakuler, tiada duanya di dunia. Berbagai aksi dan gaya para pelompat ketika sedang mengudara. Ada yang berani menarik pedang, dan ada juga yang menjepit pedangnya dengan gigi. Para wisatawan tidak puas rasanya kalau belum menyaksikan atraksi ini. Itu juga makanya, para pemuda desa di daerah tujuan wisata telah menjadikan kegiatan dan tradisi ini menjadi aktivitas komersial. Di satu sisi, mereka meminta dan bahkan ada yang setengah memaksa wisatawan untuk menyaksikan atraksi ini, namun di sisi lain mereka tidak mau melompat tanpa dibayar. Bahkan ada juga yang meminta sampai Rp 100.000 hingga Rp 200.000 sekali melompat, tergantung bargaining. Para pelompat telah mempunyai kelompok dan jaringan supaya tidak menjual murah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>Sekarang ini harganya berkisar Rp 50.000 sekali melompat. Namun kalau wisatawan tidak menunjukkan minat dan menolaknya, para pelompat pun akhirnya dapat menerima harga yang lebih murah. Dari pada tidak dapat uang, lebih bagus melompat saja.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Penutup</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>Tradisi lompat batu yang telah menjadi atraksi pariwisata yang spektakuler dan mampu membuat Nias dikenal oleh suku bangsa lain, kelihatannya sudah kurang digemari oleh generasi baru karena tingkat kesulitan untuk menguasainya. Anak-anak tidak bermain lagi dengan melompat tali. Tidak ada lagi kelompok anak-anak lelaki yang<span>  </span>bergotong royong menggali tanah, menumpuk dan membentuknya<span>  </span>menjadi bahan lompatan. Anak-anak tergantung pada bahan permainan modern yang harus dibeli dari pasar mainan anak-anak. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>Selain itu, atraksi lompat batu juga sudah berubah fungsi. Di daerah-daerah tujuan wisata, para pemuda baru mau melompat, kalau bayarannya sesuai. Sudah tidak ada lagi olah raga melompat batu yang gratis. Yang ada adalah lompat batu komersil. Karena itu, dikuatirkan, jika turisme mati, maka tradisi lompat batu akan punah. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Jika Lompat batu punah, rumah adat rusak, megalit hilang dan dijual, burung Beo Nias punah, nilai-nilai budaya masyarakat sebagai kontol sosial yang luhur mati, apa lagi yang menjadi daya tarik Nias? Apa lagi keunikannya? Semuanya hanya akan menjadi kenangan masa lalu yang sulit diulang kembali. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Media Warisan Edisi No. 35 Tahun III Agustus-September 2003</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Penulis: <strong>Nata’alui Duha, S.Pd</strong>.</span></p>
<p align="right"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Wakil Direktur Museum Pusaka Nias</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/mediawarisan.wordpress.com/10/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/mediawarisan.wordpress.com/10/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mediawarisan.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mediawarisan.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mediawarisan.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mediawarisan.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mediawarisan.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mediawarisan.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mediawarisan.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mediawarisan.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mediawarisan.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mediawarisan.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mediawarisan.wordpress.com&blog=1420810&post=10&subd=mediawarisan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mediawarisan.wordpress.com/2003/08/01/fahombo-batu-tiada-duanya-di-dunia-hanya-di-nias-ada/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Gender: Perempuan = Laki-laki?</title>
		<link>http://mediawarisan.wordpress.com/2003/05/02/gender-perempuan-laki-laki/</link>
		<comments>http://mediawarisan.wordpress.com/2003/05/02/gender-perempuan-laki-laki/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 May 2003 02:19:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Media Warisan</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Ni'era-eragu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mediawarisan.wordpress.com/2007/08/02/gender-perempuan-laki-laki/</guid>
		<description><![CDATA[            Berbicara soal gender maka kita akan membahas tentang   laki-laki dan perempuan. Apa itu Gender? Mengapa gender dibicarakan? Dan Apa maksudnya ketidakadilan gender?
Pengertian Gender
          Bila mendengar kata gender  di daerah Nias, khususnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">            </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Berbicara soal gender maka kita akan membahas tentang<span>   </span>laki-laki dan perempuan. Apa itu Gender? Mengapa gender dibicarakan? Dan Apa maksudnya ketidakadilan gender?</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Pengertian Gender</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>Bila mendengar kata gender<span>  </span>di daerah Nias, khususnya di desa- desa yang agak jauh dari kota,<span>  </span>mungkin agak asing didengar. Tetapi bagi kalangan masyarakat yang sudah memiliki pengetahuan luas, hal ini sudah biasa. Yang dimaksud dengan<em><span>  </span>Gender adalah perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam peran, fungsi,hak, tanggungjawab dan perilaku yang dibentuk oleh tata nilai sosial, budaya dan adat istiadat dari kelompok masyarakat yang dapat berubah menurut waktu serta kondisi setempat.</em> Maka<span>  </span>kesetaraan dan keadilan adalah proses untuk menjadi adil terhadap laki-laki dan Perempuan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>Rupanya, tanpa disadari di daerah dan di lingkungan kita<span>  </span>saat ini, telah terjadi ketidak setaraan dan ketidak-adilan gender. Mengapa? Bila kita bertolak dari pengertian gender di atas maka dari segi tata nilai sosial budaya dan adat istiadat di Nias sudah jelas bahwa semua peran, fungsi, hak dan tanggungjawab lebih di dominasi oleh laki-laki.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>Bila kita menoleh sejenak ke belakang di bawah tahun delapan puluhan, perempuan di Nias pada umumnya hanya diberi peran sebagai pengurus rumah tangga, pengasuh anak, memasak untuk keluarga, bertindak atas keputusan suami dan berpendidikan sangat rendah. Pada zaman ini perempuan hanya mau mengikuti<span>  </span>saja apa yang telah diputuskan oleh ayah / suami. Kesempatan untuk mengungkapkan pendapat tidak diberikan sama sekali. Namun demikian, oleh karena kemajuan pendidikan dan pengalaman, ada juga keluarga yang tidak hanya didominasi oleh laki-laki atau suami/ayah, tapi jumlahnya masih sedikit. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Mengapa Gender dibicarakan?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>Laki-laki dan perempuan adalah sama-sama ciptaan Allah. Perempuan adalah mitra laki-laki. Tetapi kenyataan di lapangan, laki-laki yang lebih banyak berperan dan mendapat kesempatan pada setiap aspek kegiatan baik politik, hukum, ekonomi, sosial budaya, pendidikan dan lain-lain.Terlebih lebih di daerah Nias yang masih terikat adat dan budaya serta menjunjung tinggi ideologi Patriarkat yang memberikan kedudukan yang lebih tinggi kepada kaum lelaki. Bukankah hal semacam ini merupakan diskriminasi terhadap perempuan? Tidak ada kesetaraan dan keadilan dalam peran dan hak-haknya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span id="more-11"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Beberapa contoh kasus yang dihadapi oleh perempuan di Nias terutama di desa-desa antara lain: (1) Berpendidikan rendah. Anak perempuan jarang bersekolah tinggi misalnya melanjutkan sekolah di SMP/SMU, apalagi ke Perguruan Tinggi. Mereka haya tamat Sekolah Dasar, setelah itu tinggal di rumah membantu orangtua membanting tulang mencari nafkah dan biaya pendidikan<span>  </span>untuk saudara laki-laki. Salah satu<span>  </span>penunjang biaya pendidikan anak laki-laki biasanya dalam keluaraga menurut kebiasaan mereka adalah memelihara babi. Dalam hal ini yang ditugaskan untuk itu adalah anak perempuan. Mereka harus mengurus dan memelihara sampai besar dan setelah besar, lalu dijual. Hasilnya akan diserahkan untuk biaya sekolah anak laki-laki. Hal ini paling menyakitkan, karena perempuan tidak<span>  </span>menikmati hasil jerih payahnya. Akibat dari pendidikan yang rendah ini, perempuan semakin terpinggirkan dan tinggal dalam kebodohan dengan dalih kodrat; (2) Tidak boleh menentukan pasangan hidup atau jodohnya sendiri. Peranan orangtua dalam menentukan jodoh anaknya sangatlah besar, terutama kepada anak perempuan. Ada juga orangtua yang tidak mau kalau anaknya perempuan belum kawin sebelum berumur 20 tahun. Mengapa? Mereka memandang bahwa perempuan yang sudah melewati umur tersebut sudah menyandang<span>  </span>sebutan perawan tua. Umur yang menurut mereka<span>  </span>baik untuk berkeluarga adalah mulai dari 14 ke sampai tahun. Banyak perempuan yang sudah kawin sejak umur 14 tahun, bahkan ada juga yang berumur di bawahnya. Dalam hal kesehatan, ini sangat mempengaruhi angka kematian ibu, sebab umur tersebut masih terlalu muda untuk memproduksi/ melahirkan. Akibat dari perkawinan ini, maka lahirlah keluarga baru<span>  </span>yang tidak didasari cinta atau suka sama suka. Dan tidak sedikitnya banyak suami yang pergi<span>  </span>merantau meninggalkan istri, bahkan ada juga yang tidak mau pulang. Hal ini terjadi akibat kurang matangnya pemikiran dan rasa tanggungjawab dalam berumah tangga; (3) Kawin paksa juga sudah menjadi tradisi. Banyak alasan mengapa terjadi kawin paksa. Umpamanya, orangtua perempuan memaksa anaknya untuk kawin supaya ia mendapat penghormatan dari orang lain, segera mendapat cucu, merasa berutang budi kepada<span>  </span>pihak laki-laki, meringankan beban keluarga, calon menantu<span>  </span>kebetulan orang kaya sehingga<span>  </span>derajatnya di tengah masyarakat akan meningkat, dan masih banyak alasan lain; (4) Tidak berhak mengemukakan pendapat. Sesuai dengan<span>  </span>kebiasaan di Nias, perempuan tidak boleh angkat bicara, sekalipun keputusan itu merugikan dirinya sendiri. Dalam hal suami-istri, seandainya suami tidak ada di rumah<span>  </span>sementara ada satu hal penting yang harus diputuskan saat itu juga, maka istri tidak boleh mengambil keputusan sendiri, melainkan harus menunggu suami pulang atau<span>  </span>bila ada ayah mertuanya, maka itulah yang bisa membantu<span>  </span>memberi keputusan. Dalam musyawarah adat, perempuan tidak dilibatkan. Mereka hanya menunggu apa yang diputuskan oleh kaum lelaki; (5) Anak perempuan tidak membawa rejeki. Bila seorang ibu melahirkan anak pertama yaitu perempuan, maka keluarga tersebut akan sangat kecewa, sebab yang paling diharapkan lahir adalah anak laki-laki yang dianggap sebagai pembawa rejeki dan generasi penerus. Perempuan dianggap kurang penting, inferior, dan tidak berkompeten memegang satu jabatan; (6) Peminggiran terhadap Janda dan Perawan Tua. Bagi perempuan yang sudah menyandang status janda dan perawan tua sudah barang tentu mereka kurang diperhitungkan dan difungsikan dengan alasan kurang mampu<span>  </span>apalagi bila kondisi sosial ekonomi yang tidak memadai. Begitu juga dengan perawan tua, dalam setiap pesta adat misalnya pesta perkawinan, maka pada saat pembagian jatah makanan &#8216;<em>urakha,</em>&#8216;<span>  </span>nama mereka<span>  </span>tidak pernah disebutkan; (7) Pemuas kaum lelaki. Suami menjadi pencari nafkah utama. Karena itu, suami merasa berkuasa terhadap istri. Istri diberi tugas melayani suami, mengasuh anak, memasak, berusaha supaya selalu terjadi keharmonisan dalam keluarga, tetapi<span>  </span>suami<span>  </span>tidak pernah memperdulikan kalau<span>  </span>istri memberi nasehat supaya jangan sering pulang malam, pulang dalam kondisi mabuk, jangan sering nongkrong di warung tuak, dll. Bila istri bertahan, maka suami sering kali melakukan tindakan kekerasan terhadap isteri; (8) Tidak diberi kesempatan untuk mengikuti kegiatan ekstra di luar rumah; (9) Mengalami kekerasan. Perempuan sering menjadi korban pelecehan seksual. Bila seorang perempuan hamil di luar nikah, maka orangtuanya akan mengawinkannya dengan lelaki yang lain, bukan kepada lelaki yang sudah menodainya. Pada persoalan ini kepada laki-laki yang telah berbuat jahat terhadap si perempuan, seakan-akan diberi dispensasi untuk tidak mempertanggung-jawabkan perbuatannya. Masih banyak contoh lain.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Berdasarakan kenyataan di atas, maka telah terjadi ketidak-adilan gender. Telah terjadi ketidak-setaraan laki-laki dan perempuan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Secara garis besar, ada 5 (lima) bentuk ketidak-adilan gender: (1) Marginalisasi, yaitu: Pemiskinan atau peminggiran peran perempuan dalam bidang ekonomi, politik, sosial dan budaya. Hal ini bisa disebabkan oleh: (a) Miskin karena di miskinkan; (b) Timbul karena ideologi patriarkat, yang selalu memberi kedudukan yang lebih tinggi kepada laki-laki; (c) Menyudutkan perempuan ke posisi yang menyudutkan; (d) Mempersempit peluang atau kesempatan kepada perempuan. (2) Subordinasi, yaitu: Adanya anggapan bahwa perempuan itu tidak penting, tidak perlu memegang jabatan yang terlalu tinggi; (3) Stereotipe (citra baku), artinya: Ciri perempuan yang sudah dikonstruksi/dibentuk oleh manusia, dan timbul pandangan<span>  </span>untuk membakukannya. Contohnya, merawat anak, memasak, dan menjaga keutuhan keluarga; (4) Beban ganda, maksudnya: Perempuan mempunyai beban pekerjaan di luar rumah dan sekaligus beban tanggungjawab diri sendiri, keluaga dan masyarakat; (5) Kekerasan, maksudnya: Perempuan adalah korban tindak kekerasan yang berupa fisik misalnya: pemerkosaan, pelecehan seksual, penyiksaan terhadap istri.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Kelima bentuk ketidak-adilan di atas hampir sudah merasuki kehidupan kita kaum perempuan. Maka patutlah kita sebagai perempuan mulai sekarang menyadari bahwa: (a) Kaum laki-laki hendaknya menghormati dan menghargai peran perempuan yang pada zaman ini sama pentingnya dengan laki-laki; (b) Kaum perempuan<span>  </span>harus terus berjuang memikirkan dan berusaha menggunakan peluang dan kesempatan untuk terpanggil dalam dunia publik; (c) Kaum perempuan harus mendukung semua gerakan dan program yang memberi kesempatan kepada perempuan untuk mendapat tempat / kedudukan yang wajar; (d) Kaum perempuan perlu mengorganisasikan diri. Untuk organisasi perempuan yang sudah ada diharapkan untuk meningkatkan mutunya supaya dapat menjadi tempat untuk melatih diri kaum perempuan secara profesional, yang tidak memandang golongan, jenis kelamin, suku dan agama<em>.</em></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Ketidak-adilan gender ini seharusnya secara pelan-pelan dihapuskan. Bagaimana caranya? Hal ini tidak mungkin instant, <em>butuh waktu, perjuangan dan proses!</em></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Bagaimana supaya kesetaraan dan keadilan Gender dapat terwujud? </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Hendaklah hal ini dimulai dari skop kecil yaitu dalam keluarga kita sendiri. Mulai dari hal kecil bagaimana menempatkan hak anak baik laki-laki maupun perempuan, memberi pemahaman yang sama kepada seluruh anggota keluarga akan peran dan tugas secara adil dari setiap aspek kehidupan keluarga. Menanamkan perasaan kesamaan hak dan kewajiban, kesempatan dan kedudukan dalam diri anak. Menciptakan suasana keluarga yang saling menghargai sikap dan perilaku serta saling mengerti akan tugas dan tanggungjawab masing-masing. Seluruh anggota keluarga harus ikut berperan dalam setiap proses pengambilan keputusan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Media Warisan Edisi No. 33 Tahun III April-Mei 2003</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Penulis: <strong>Oktoberlina Telaumbanua, A.Md</strong>.</span></p>
<p align="right"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Staf Museum Pusaka Nias</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/mediawarisan.wordpress.com/11/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/mediawarisan.wordpress.com/11/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mediawarisan.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mediawarisan.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mediawarisan.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mediawarisan.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mediawarisan.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mediawarisan.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mediawarisan.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mediawarisan.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mediawarisan.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mediawarisan.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mediawarisan.wordpress.com&blog=1420810&post=11&subd=mediawarisan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mediawarisan.wordpress.com/2003/05/02/gender-perempuan-laki-laki/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Rumah Adat Nias ‘Omo Niha’ Dari Tahun ke Tahun Semakin Berkurang</title>
		<link>http://mediawarisan.wordpress.com/2003/02/01/rumah-adat-nias-%e2%80%98omo-niha%e2%80%99-dari-tahun-ke-tahun-semakin-berkurang/</link>
		<comments>http://mediawarisan.wordpress.com/2003/02/01/rumah-adat-nias-%e2%80%98omo-niha%e2%80%99-dari-tahun-ke-tahun-semakin-berkurang/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Feb 2003 03:35:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Media Warisan</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>

		<category><![CDATA[Ni'era-eragu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mediawarisan.wordpress.com/2003/02/01/rumah-adat-nias-%e2%80%98omo-niha%e2%80%99-dari-tahun-ke-tahun-semakin-berkurang/</guid>
		<description><![CDATA[    Salah satu bukti material kejayaan kultur para leluhur masyarakat Nias adalah rumah adat ‘Omo hada’ atau ‘Omo Niha’ dengan berbagai tipe yang masih bisa kita lihat sampai sekarang ini. Keindahan dan keagungan arsitektur rumah adat Nias telah menarik minat para peneliti luar negeri untuk mengetahui lebih dalam bagaimana konstruksi rumah-rumah tersebut. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">    Salah satu bukti material kejayaan kultur para leluhur masyarakat Nias adalah rumah adat <em>‘Omo hada’ </em>atau <em>‘Omo Niha’</em> dengan berbagai tipe yang masih bisa kita lihat sampai sekarang ini. Keindahan dan keagungan arsitektur rumah adat Nias telah menarik minat para peneliti luar negeri untuk mengetahui lebih dalam bagaimana konstruksi rumah-rumah tersebut. Rumah adat Nias memiliki filosofi dan merupakan simbol untuk menya-mpaikan berbagai pesan moral kepada generasi ke generasi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:14.2pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>Konstruksi rumah adat Nias yang ramah lingkungan semakin indah dan mengagumkan dengan batu-batu megalit yang disusun di depannya dalam satu pola desa yang tertata rapi. Itulah yang menambah pesona rumah adat Nias.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Keagungan dan keindahan tersebut semakin hari semakin meluntur dan menghilang, berhubung karena jumlahnya yang dari tahun ke tahun semakin berkurang dengan berbagai penyebab.</span><br />
<span id="more-9"></span><br />
<strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Kebakaran</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>    Sebelum masyarakat Nias mengenal bahan dari semen dan besi, semua rumah di Nias terbuat dari kayu. Rumah adat adalah pilihan nomor satu. Baru kemudian yang lain. Yang jelas, salah satu indikator kemapanan ekonomi dan syarat peningkatan status sosial adalah jika seseorang telah memiliki rumah adat sendiri. Rumah adat merupakan salah satu simbol prestise di tengah masyarakat.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>    Sekarang ini, rumah-rumah tersebut sudah banyak yang terbakar dan juga dibakar. Pada musim kemarau panjang, rumah-rumah adat Nias yang dibuat dari bahan kayu dengan atap daun Sagu (daun rumbia) sangat mudah terbakar. Percikan api dapur yang kurang terkontrol, sering menimbulkan bencana kebakaran satu desa.Yang paling berbahaya lagi adalah di Telukdalam, Nias Selatan. Kebakaran salah satu rumah menjadi kebakaran seluruh rumah di satu desa. Hal ini disebabkan oleh pola perkampungan di mana rumah-rumah penduduk berjejer sangat berdekatan pada dua baris dan saling berhadapan.</span><!--more--></p>
<p class="MsoNormal">    <span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Ada juga kebakaran yang di sengaja. Dahulu sebelum masyarakat Nias terbuka pada perkembangan jaman dan dunia luar, belum mengenal hukum, baik hukum pemerintahan maupun hukum agama, maka permusuhan dan peperangan antar desa dengan berbagai latar belakang sering terjadi. Pembakaran rumah-rumah penduduk di desa musuh tidak dapat dihindari. Beberapa rumah besar dibakar oleh desa lain yang saling berseteru. Kasus semacam ini banyak kita dengar di Telukdalam, Nias Selatan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Runtuh </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>    Karena umur sudah tua, maka ada juga rumah adat Nias menjadi runtuh. Panjang atau pendeknya umur rumah tergantung dari pemeliharaan dan bahan kayu yang dipakai. Rumah-rumah yang kurang dipelihara dan tidak ada penghuni, biasanya tidak bertahan lama. Asap dapur dan pembersihan rutin juga dapat membantu perpanjangan usia rumah hingga ratusan tahun.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>    Atap rumah adat yang terbuat dari daun rumbia, secara periodik juga harus diganti. Atap yang dibuat dari daun sagu muda dan hanya satu lapis, akan cepat lapuk dan bolong, sehingga air menetes dan membasahi badan rumah yang terbuat dari kayu, sehingga lama-kelamaan kayu menjadi lapuk dan busuk. Atap yang agak tahan adalah atap yang terbuat dari daun sagu yang tua &#8216;Ina Zagu&#8217; dan dibuat dua lapis, sehingga bisa mencapai umur 10 tahun, baru ditukar kembali dengan atap yang baru. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:14.2pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Penggantian atap secara periodik membutuhkan tenaga dan biaya yang cukup mahal, apa lagi kalau bahannya serba dibeli. Pohon sagu yang sudah tidak lagi ditanam, menjadi masalah dalam pertukaran atap rumah adat Nias. Permasalahan inilah yang banyak kita dengar di desa-desa. Hal ini, sangat erat juga hubungannya dengan kekuatan ekonomi keluarga, dimana yang punya uang akan mampu membeli bahan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:14.2pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Namun, pada masa kini, persoalannya lain. Sebab, jika seseorang telah memiliki banyak uang maka ia akan mendirikan rumah beton &#8216;omo batu,&#8217; sebagai satu simbol prestise modern.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Sengaja diruntuhkan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>    Ada juga rumah adat yang sengaja diruntuhkan atau dibiarkan busuk, lapuk dan dengan sendirinya runtuh. Satu rumah yang dianggap sebagai pusaka atau harta warisan orangtua, sulit dibagi-bagikan kepada ahli waris yaitu para putra pemilik rumah yang terdiri dari beberapa orang. Setelah orangtua meninggal dunia, maka persatuan dan kesatuan di antara para putra semakin tidak ada. Muncul berbagai konflik pada pembagian harta warisan terutama rumah dan tanah. Akhirnya, rumah dibiarkan menjadi hancur. Tidak ada satu orang pun yang berani mengurus dan memelihara. Jadi warisan (pusaka) orangtua dibiarkan hancur, diterlantarkan! Ya möi ö mbekhu ! Kasus ini banyak juga kita temui. Rumah-rumah warisan dibiarkan tanpa penghuni bagai rumah hantu dan akhirnya busuk di air hujan yang jatuh membasahi badan rumah karena atapnya sudah bolong di sana-sini. Cara dan perilaku ini sangat tidak bijaksana dalam konteks pelestarian budaya atau pusaka.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>    Ada juga yang sengaja meruntuhkan rumah adat, karena hendak membangun rumah modern yang terbuat dari beton. Pemilik rumah merasa bahwa tinggal di dalam rumah adat sudah tidak sesuai dengan perkembangan jaman. Ada juga yang merasa bahwa rumah adat Nias tidak nyaman dan merupakan kebiasaan manusia kuno yang belum mengenal modernisasi. Pandangan ini yang mempercepat laju kehancuran budaya dan pusaka masyarakat Nias secara umum. Pandangan dan perilaku ini merupakan tanda-tanda kepunahan budaya suatu kelompok masyarakat. Sebab, jaman akan terus maju, dan kemajuan itu akan ditandai dengan peralihan yang mengarah pada pemunahan budaya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Tidak ada rebuilding</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>    Dewasa ini, pembangunan kembali rumah-rumah adat sudah jarang ditemukan dengan berbagai alasan, misalnya kesulitan memperoleh bahan kayu atau ada kayu tetapi harganya cukup mahal. Kayu menjadi sulit didapat karena hutan-hutan di Nias telah menjadi gundul karena penebangan liar tanpa penanaman kembali. Selain itu, sistim pertanian tradisional yang selalu membakar lahan dan berpindah-pindah, juga mempercepat hancurnya hutan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>    Jumlah penduduk yang semakin bertambah banyak, juga<span>  </span>menjadikan pengusaan lahan menjadi sempit untuk ditanami. Tanah luas hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu yang memiliki uang.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Peralihan Budaya</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>    Tidak terpeliharanya rumah-rumah adat dan jarangnya orang yang membangunnya kembali, sangat erat hubungan dengan pola pandang masyarakat terhadap budaya vs modernisasi. Budaya dianggap sebagai sesuatu yang kuno dan nostaligia masa lampau yang sudah ketinggalan jaman, termasuk tinggal atau membangun rumah adat Nias. Masyarakat cenderung membangun dan tinggal dalam rumah modern yang bahannya sebagian besar diimport dari luar. Produk luar merupakan simbol gengsi dan produk lokal menjadi simbol ketertinggalan jaman. Pandangan inilah yang mempercepat laju kehancuran rumah-rumah tradisional Nias yang sangat unik dan menarik bagi masyarakat luar, tetapi asing di negeri sendiri. Pandangan ini melenceng dan salah memahami hakekat perkembangan dan kemajuan. Karena itu rumah modern menjadi pilihan paling utama dan menjadi simbol perkembangan dan kemajuan seseorang.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Yang perlu dilakukan</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>    Dengan melihat beberapa penyebab penyusutan jumlah rumah adat &#8216;Omo Niha&#8217; di atas, perlu dilakukan beberapa tindakan agar Nias tetap menarik, agung, indah<span>  </span>dan unik dari suku bangsa lain, misalnya: (a) Penanaman pohon kayu keras dan Sagu.Jika ada hutan dengan pohon kayu yang dapat dipergunakan sebagai bahan pembangunan rumah adat, maka kesulitan pendirian rumah adat akan segera teratasi. Selain itu, Pulau Nias akan menjadi hijau dan subur kembali, sehingga bencana longsor dan banjir dapat terhindarkan. Jika pohon sagu ada, maka daun rumbia untuk atap rumah akan tersedia, serta tidak akan menjadi mahal. (b) Pemahaman akan nilai budaya dan hidup modern yang benar. Masyarakat harus memiliki pemahaman yang benar terhadap budaya dan bagaimana yang disebut hidup modern atau modernisasi. Hidup modern tidak harus dengan cara mematikan atau menghilangkan identitas diri sendiri dan meniru pola hidup orang lain dari luar. Hidup modern tidak harus dilakukan dengan cara membuka dan membuang baju sendiri dan mencuri pakaian orang lain untuk menutupi tubuh yang telanjang. (c) Pendampingan masyarakat di desa tradisional. Dalam usaha pelestarian dan pemeliharaan rumah adat Nias, maka perlu adanya pendampingan masyarakat di desa-desa tradisional di Nias. Pendampingan ini diperlukan untuk memfasilitasi kesulitan dan masalah yang rumit di antara masyarakat atau pemilik rumah tradisonal. Pendekatan dan pola pendampingan masyarakat dilakukan seperti yang dilakukan oleh Yayasan Pusaka Nias / Museum Pusaka Nias di desa Onowaembo-Idanoi dan Lalai Satua.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:right;" align="right"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Media Warisan Edisi No. 31 Tahun III Februari 2003</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Penulis: <strong>Nata’alui Duha, S.Pd</strong>. </span></p>
<p align="right"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Wakil Direktur Museum Pusaka Nias</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/mediawarisan.wordpress.com/9/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/mediawarisan.wordpress.com/9/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mediawarisan.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mediawarisan.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mediawarisan.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mediawarisan.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mediawarisan.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mediawarisan.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mediawarisan.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mediawarisan.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mediawarisan.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mediawarisan.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mediawarisan.wordpress.com&blog=1420810&post=9&subd=mediawarisan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mediawarisan.wordpress.com/2003/02/01/rumah-adat-nias-%e2%80%98omo-niha%e2%80%99-dari-tahun-ke-tahun-semakin-berkurang/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Mengajarkan Budaya dan Seni Pertunjukan Keberlanjutan Tradisi Nias di Sekolah</title>
		<link>http://mediawarisan.wordpress.com/2002/02/01/mengajarkan-budaya-dan-seni-pertunjukan-keberlanjutan-tradisi-nias-di-sekolah/</link>
		<comments>http://mediawarisan.wordpress.com/2002/02/01/mengajarkan-budaya-dan-seni-pertunjukan-keberlanjutan-tradisi-nias-di-sekolah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Feb 2002 03:34:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Media Warisan</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>

		<category><![CDATA[Ni'era-eragu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mediawarisan.wordpress.com/2002/02/01/mengajarkan-budaya-dan-seni-pertunjukan-keberlanjutan-tradisi-nias-di-sekolah/</guid>
		<description><![CDATA[Pendahuluan
Kekuatiran berbagai kalangan terutama yang menaruh perhatian pada pelestarian budaya sebagai suatu identitas suku bangsa, senantiasa teratasi dengan keluarnya Undang-undang Otonomi Daeah No. 22 Tahun 1999. Daerah diberikan kewenangan untuk mempertahankan dan mengembangkan seni budayanya menjadi sesuatu yang produktif, atraktif dan bernilai ekonomis. 
            [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Pendahuluan</span></strong></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Kekuatiran berbagai kalangan terutama yang menaruh perhatian pada pelestarian budaya sebagai suatu identitas suku bangsa, senantiasa teratasi dengan keluarnya Undang-undang Otonomi Daeah No. 22 Tahun 1999. Daerah diberikan kewenangan untuk mempertahankan dan mengembangkan seni budayanya menjadi sesuatu yang produktif, atraktif dan bernilai ekonomis. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>              </span>Untuk memacu peningkatan pendapatan daerah di sektor kepariwisataan, maka budaya merupakan asset yang potensial jika dikemas menjadi atraksi yang memiliki pasar. Hal ini tidak berarti bahwa kebudayaan dikembangkan hanya karena alasan<span>  </span>pariwisata saja yang mengarah pada kesesuaian selera konsumen, tetapi dikemas menjadi simbol identitas dan jati diri suku bangsa yang unik, sehingga mempunyai daya tarik, ingin dilihat dan dihargai oleh bangsa-bangsa lain yang ada di dunia.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:0.0001pt;"><span id="more-8"></span> <strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Dasar pemikiran</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>              </span>Untuk memelihara kesinambungan eksistensi tradisi (budaya), maka sangat perlu pendekatan lewat pendidikan formal, yaitu memasukan<span>  </span>budaya dan seni keberlanjutan tradisi menjadi bahan pelajaran atau materi pelatihan yang bisa dipadukan dengan mata pelajaran Kesenian atau Olah raga, Sejarah, Pariwisata atau muatan lokal lainnya. Di sini harus terjadi link and match dalam mendisain isi kurikulum atau Garis-garis Besar Pokok Pembelajaran (GBPP) yaitu adanya kesesuaian materi dengan kebutuhan masyarakat setempat, sehingga manusia menjadi berkembang, matang dan dewasa berdasarkan akar budayanya sendiri yang bersifat positif dan konstruktif. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>              </span>Sebagaimana dianjurkan oleh filsuf &#8220;Sokrates&#8221; agar peserta didik dimotivasi untuk mengenal dirinya sendiri, menjadi diri sendiri, bangga dengan identitas diri sendiri dan<span>  </span>bukan dengan milik orang lain, maka lembaga pendidikan bertanggungjawab meneruskan nilai-nilai yang positif dan relevan kepada peserta didik. Sebab lembaga pendidikan yang menjalankan kegiatannya tanpa menyatu dengan budaya akan menghasilkan output yang bisa jadi cerdas tetapi selalu ditolak oleh masyarakat dimana ia menerapkan kepintaranya yang tidak didasari oleh pendekatan budaya yang tepat dan pada akhirnya kalau sudah menjadi pejabat alias penguasa, kerjanya KKN terus. Contohnya: Di Nias, kebanyakan sarjana gagal menjadi pendorong (penggerak) roda pembangunan di desanya. Mereka terpaksa merantau di luar daerah, dan di daerah orang lain mereka bisa sukses. Apa penyebabnya? Pendekatan yang mereka lakukan tidak sesuai dengan kondisi sehari-hari dan tradisi masyarakat setempat di Nias. Di sekolah, mereka belajar budaya bangsa lain (Jawa, Minang dll), padahal mereka diharapkan untuk mengabdikan diri di daerahnya setelah menyelesaikan pendidikannya. Karena itu, program &#8220;Marsipature Huta nabe&#8221; di Nias otomatis gagal. Yang mampu dibangun oleh para putra terbaik Nias adalah dirinya sendiri di daerah lain, bukan komunitas yang lebih luas.</span><!--more--></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:0.0001pt;">&nbsp;</p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">    Peserta didik diarahkan untuk mencintai alam dan lingkungannya. Memahami dan menghayati lingkungan<span>  </span>sosial dimana dia hidup dan berkembang. Mereka tidak di bawa pada situasi yang hanya dalam angan-angan yang tidak dapat mereka bayangkan, lihat dan sentuh, sehingga kelak mereka menjadi manusia yang dapat diterima oleh masyarakat di lingkunganya, mampu berbuat dan berbaur dengan lingkunga sosial dimana ia menerapkan ilmu-pengetahuan yang diperoleh dari bangku sekolah. Mereka tidak menjadi orang asing di negerinya sendiri. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Tergantung SDM Guru</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>    Masuknya budaya dan seni keberlanjutan tradisi dalam kurikulum atau muatan lokal, bukanlah satu jaminan kesinambungan suatu budaya (tradisi), sebab yang banyak menentukan hasilnya adalah para pelaku pendidikan itu yaitu “para guru.” Kita harus jujur mengakui bahwa banyak orang jadi guru, bukan karena dia memiliki kompetensi, mencitai dan menghayati profesi keguruan, tetapi karena motivasi lain yaitu mencari uang atau terpaksa karena tidak ada lahan lain. Misalnya: Guru-guru sejarah lebih senang membicarakan hebatnya arsitektur candi Borobudur dan Prambanan yang juga belum pernah dilihat oleh guru itu sendiri. Mereka tidak menyadari bahwa menurut Alain Viaro (1993) seorang professor dan peneliti arsitektur rumah tradisional Nias dari Swiss mengatakan bahwa “Arsitektur rumah adat Nias sangat luar biasa dan sempurna.” Dalam kasus ini kompetensi guru mempunyai peranan penting dalam kesinambungan dan pengembangan budaya. Guru kesenian lebih senang melatih peserta didik menyanyikan lagu daerah lain, seperti Sajojo dan Poco-poco. Hal semacam itu juga perlu &#8216;jika sebatas memperkenalkan atau sebagai selingan&#8217; agar dalam diri siswa tertanam jiwa toleransi, menghargai keberagaman (pluralitas) dan menerima perbedaan orang lain, akan tetapi mengenali diri sendiri<span>  </span>merupakan hal yang terpenting agar setiap orang bisa tahu diri.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Beberapa Solusi</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>    Pemerintah Daerah melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan merancang suatu kegiatan apresiasi atau perlombaan atau festival dengan hadiah yang merangsang. Tujuannya adalah menggarap salah satu seni pertunjukan keberlanjutan tradisi menjadi materi sport (olah raga atau senam) dan seni pertunjukan yang memasyarakat dengan perpaduan syair, gerak, musik dan irama yang harmonis, semangat, menarik, elegan dilihat dan dilakonkan oleh berbagai golongan umur.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>    Dari hasil perlombaan atau festival, maka beberapa seniman ditugaskan dalam team work untuk mengemas dan mengembangkan salah pola dari gerak dll yang merupakan perpaduan penampilan peserta yang mengesankan. Hasil akhir dari kerja tim ini kemudian didokumentasikan atau di-audio-visualkan, sehingga mudah disosialisasikan di sekolah-sekolah, kelompok masyarakat dan masyarakat luas, bahkan keluarga dan perorangan yang memiliki minat. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Mendatangkan pelatih luar biasa</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>    Untuk memantapkan performance (syair, gerak, irama, musik dll.), maka sangat perlu mendatangkan pelatih luar biasa yang direkrut dari kelompok binaan sebagai instruktur dan peraga free lance. Atraksi atau seni pertunjukan keberlanjutan tradisi yang telah dikemas dan didesain itu, kemudian diperlombakan kembali di sekolah-sekolah, organisasi, kelompok masyarakat dan lain-lain, sehingga cepat tersosialisasi dan memasyarakat, seperti &#8220;Sajojo dan Poco-poco&#8221; minimal di pulau Nias. Inspirasinya bisa diangkat dari berbagai tarian di Nias, misalnya: Maena dll.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Kerjasama dengan lembaga terkait</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>    Untuk memperkaya pemikiran dan ide-ide cemerlang, perlu melibatkan berbagai pihak dan lembaga-lembaga bahkan juga perorangan yang menaruh perhatian pada pelestarian dan pengembangan seni keberlanjutan tradisi Nias menjadi salah satu ciri khas menuju pada usaha pencarian dan pembentukan identitas dan jati diri suku bangsa yang sesungguhnya.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Poco-poco dan Sajajo menggoncang Nias</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>    Sekitar tiga tahun yang lalu, tarian dan nyanyian Sajojo dari Irianjaya, kita dengar dimana-mana, hingga banyak sekolah, lembaga dan kelompok masyarakat memperlombakan tarian Sajojo. Akhir-akhir ini, Sajojo digantikan dengan Poco-poco yang gebrakannya jauh lebih gempar. Dimana-mana bahkan di pelosok-pelosok, di bus angkutan desa dll, kita selalu mendengar nyanyian Poco-poco dari Ambon (Hidup Ambon!). Setiap hari Jum’at, para pegawai negeri di instansi pemerintah dan swasta melakukan sport Poco-poco. Anak-anak kecil sudah mengenal Poco-poco. Hal itu, tidak menjadi masalah. Namun yang patut kita pertanyakan adalah “Apakah Nias tidak memiliki seni pertunjukan keberlanjutan tradisi yang dapat dikreasikan dan dikemas menjadi lagu dan musik<span>  </span>senam sebagai olah raga yang mempunyai nilai seni? Apakah Maena tidak dapat dikemas gerakan dan musiknya menjadi satu pola sport dan seni pertunjukan kebelanjutan tradisi yang populer dan spektakuler? Atau tidak adakah seniman Nias yang mampu menciptakan hal itu? Atau memang orang Nias lebih senang memakai barang orang lain dari pada barang sendiri? Selain Maena, Lompat Batu, Molau Hoho, Faböli-böli, Mo’uke (mengukir) dll. Sangat cocok diajarkan di SD, SLTP, SLTA dan bahkan Perguruan Tinggi. Permasalahannya adalah apakah para pendidik dan pembuat kebijakan pendidikan pernah memikirkan hal seperti ini? Pasti ! Buktinya perlombaan pada tanggal 23 Maret 2002 yang lalu di Pendopo. Tinggal bagaimana tindak lanjutnya sebagaimana yang digagaskan penulis.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Penutup</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>          </span>    Apapun alasanya, lembaga pendidikan tidak hanya bertanggungjawab untuk menciptakan manusia menjadi pintar alias punya keahlian dan ketrampilan, akan tetapi memproses manusia menjadi manusia yang berpendidikan yang bertujuan untuk memanusiakan manusia, mensosialisasikan manusia dan membudayakan manusia. Pada akhirnya ketrampilan dan keahlian output mudah diterima, dicerna dan dipraktekkan oleh masyarakat luas dimana mereka mengabdi. Itulah yang sebut dengan &#8220;pembangunan, pemberdayaan dan pencerdasan<span>  </span>melalui pendekatan berdasarkan budaya masyarakat setempat&#8221;.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Media Warisan Edisi No. 25 Tahun III Pebruari 2002</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Penulis: <strong>Nata’alui Duha, S.Pd</strong>. </span></p>
<p align="right"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Wakil Direktur Museum Pusaka Nias</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/mediawarisan.wordpress.com/8/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/mediawarisan.wordpress.com/8/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mediawarisan.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mediawarisan.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mediawarisan.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mediawarisan.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mediawarisan.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mediawarisan.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mediawarisan.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mediawarisan.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mediawarisan.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mediawarisan.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mediawarisan.wordpress.com&blog=1420810&post=8&subd=mediawarisan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mediawarisan.wordpress.com/2002/02/01/mengajarkan-budaya-dan-seni-pertunjukan-keberlanjutan-tradisi-nias-di-sekolah/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Adat Orang Nias Dalam Kehidupan Sehari-hari</title>
		<link>http://mediawarisan.wordpress.com/2001/12/01/adat-orang-nias-dalam-kehidupan-sehari-hari/</link>
		<comments>http://mediawarisan.wordpress.com/2001/12/01/adat-orang-nias-dalam-kehidupan-sehari-hari/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Dec 2001 03:32:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Media Warisan</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>

		<category><![CDATA[Ni'era-eragu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mediawarisan.wordpress.com/2001/08/01/adat-orang-nias-dalam-kehidupan-sehari-hari/</guid>
		<description><![CDATA[A. Pendahuluan
Pemberian salam kepada sesama sangat tinggi nilainya terhadap satu dengan yang lain. Bila seseorang tidak bersapaan atau memberi salam kepada yang lain, maka diantara kedua belah pihak sudah terjadi disintegrasi sosial yang mungkin disebabkan oleh sifat, gaya, cara jalan, tutur bahasa, cara berpakaian atau penataan rambutnya yang kurang diterima oleh kebanyak orang. Jika sifat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;font-weight:normal;">A. Pendahuluan</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;font-weight:normal;"></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;font-weight:normal;">Pemberian salam kepada sesama sangat tinggi nilainya terhadap satu dengan yang lain. Bila seseorang tidak bersapaan atau memberi salam kepada yang lain, maka diantara kedua belah pihak sudah terjadi disintegrasi sosial yang mungkin disebabkan oleh sifat, gaya, cara jalan, tutur bahasa, cara berpakaian atau penataan rambutnya yang kurang diterima oleh kebanyak orang. Jika sifat diatas tidak ada maka relasi mereka menjadi lebih akrab sehingga setiap bertemu selalu menyapa dengan ucapan “Ya’ahowu” yang dilanjutkan dengan kata “Yae nafoda” atau bologö dödöu, lö afoda&#8221;<span>  </span>(ini sirih kita atau maaf kita tidak punya sirih). Dalam situasi tersebut kedua belah pihak saling memakan sirih. Setelah itu<span>  </span>baru diakhiri dengan salam kembali dan kata “ya’ami ba lala” (selamat jalan) sebagai kata perpisahan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<h2 align="left"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;font-weight:normal;">B. Beberapa kebiasaan mendasar</span></h2>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span>1.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Persiapan Orang yang hendak bertamu</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Wanita yang sudah dinamai “Si no lafatö turu” atau “sino lafotu” (sudah berkeluarga dengan tahap-tahap adat) pergi bertamu baik kepada orang yang sudah dikenal maupun kepada orang yang belum dikenal selalu mempersiapkan diri dari rumah berupa penghormatan. Sebelum berangkat dari rumah bila seorang bapak yang pergi dia mengatakan kepada istrinya<span>  </span>“biz(d)i nafogu ua” (persiapkan sirih saya dulu), saya mau pergi kepada Ama Warisan. Lalu ibu mempersiapkan sirih dan memberikanya<span>  </span>di “Naha nafo” (Kempit sirih). Setelah siap dipersiapkan baru bapak mengambil dan disimpannya dalam kantongnya.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left:0;text-align:left;text-indent:0;" align="left"><span id="more-7"></span> <span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Dalam perjalanan, setiap orang yang bertemu kepadanya selalu memberi salam “Ya’ahowu” dan mengambil sirih yang telah dipersiapkan dari rumah dan diberikan kepada orang yang bertemu dengan dia mengatakan “Yae nafoda ” (ini sirih kita). Setelah selesai baru melanjutkan perjalanan di mana tujuan pertamanya.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left:0;text-align:left;text-indent:0;" align="left"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Bila seorang ibu rumah tangga yang hendak bertamu baik pergi kepada “Sitenga bö’ö” (kerabat) maupun kepada orang lain, terlebih dahulu<span>  </span>mempersiapkan sirih yang ditempatkan di “Naha Nafo” (kempit sirih), dan setiap orang yang hendak bertemu selalu memberi salam “Ya’ahowu” terus bersalaman dan baru menyungguhkan sirih satu dengan yang lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">2. Kebiasaan bila tamu datang di rumah</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left:0;text-align:left;text-indent:0;" align="left"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Bila seseorang datang di rumah untuk bertamu selalu dimulai dengan kata salam “Ya’ahowu” dan dilanjutkan sikap bersalaman. Kemudian disambung dengan kata “ Yae nafoda” (ini sirih kita) atau bologö dödöu Lö’afoda (ma’af tidak ada sirih kita). Baru ibu rumah tangga menyungguhkan sirih kepada para tamu. Pada saat saling mungunyah sirih yang disungguhkan timbal balik, ibu rumah tangga berkata: “Hadia göda Ga’a atau Baya?” dan sebagainya, “Hana wamikaoniga?” (apa makanan kita?), Kenapa kalian mengundang kami?). Tamu yang datang menjawab: “Lö hadöi, möiga manörö-nörö manö (tidak ada, hanya sekedar jalan-jalan saja).”</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left:0;text-align:left;text-indent:0;" align="left"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Dari kata seorang ibu di atas,<span>  </span>itu bukan berarti menghendaki supaya ada makanan dengan bertanya “apa makanan kita.” Tetapi sapaan untuk menindak lanjuti kata seterusnya supaya ada keakrapan dan nampak lebih dekat. Begitu sebaliknya dengan jawaban dari<span>  </span>tamu yang mengatakan<span>  </span>“hanya jalan-jalan saja’ atau “meminta makanan kami”. Itu semua kedua belah pihak hubungan mereka lebih kekeluargaan.<span>  </span>Hal ini juga tidak dikatakan kepada orang yang tidak dikenal sama sekali. Kedua hal ini baik sebagai tamu atau tuan rumah mempunyai tujuan<span>  </span>yang berbeda dari pada ungkapan pertama tadi.</span><!--more--></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left:0;text-align:left;text-indent:0;" align="left"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Setelah beberapa saat baru tamu memberitahukan apa tujuan yang sebenarnya dan tuan rumah baru berbicara yang sebenarnya sesuai dengan tujuan yang dikehendaki oleh tamu. Setelah selesai pembicaraan baru dilanjutkan dengan kata “mofanöga”<span>  </span>(permisi, kami pergi). Tuan<span>  </span>rumah tidak terus mengizinkan pergi tetapi harus “Lasaisi” artinya kita tahan mereka untuk menunggu makan. Dengan kata “Tabase’ö öda idanö ua” (mari kita minum dulu) atau tabase’ö öda wakhe safusi ua hana wa aösö-aösö sibaikö” (mari kita tunggu makanan kita nasi putih dulu, kenapa tergesa-gesa sekali) “Ha walö diwo-diwoda (hanya saja, tidak ada lauk pauk kita).</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left:0;text-align:left;text-indent:0;" align="left"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Kata-kata diatas sikap tamu bisa menunggu bisa juga tidak. Karena hanya merupakan basa basi. Dilanjutkan dengan kata ma’af tidak ada lauk pauk kita. Itu hanya menunjukkan kerendahan hati walaupun kenyataannya lauk-pauk mereka anak babi yang tambun, ayam atau “Ni’owuru” (daging babi yang sudah digarami).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">3. Kebiasaan waktu makan</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left:0;text-align:left;text-indent:0;" align="left"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Pada hari biasa mereka makan tiga kali sehari. Pagi hari mereka makan “Sinanö” (umbi-umbian) siang hari mereka makan “umbi-umbian” dan nasi sebagai “Fangazökhi dödö” (makanan yang menyenangkan). Pada malam harinya mereka makan seperti makan siang. Sehingga setiap hari mereka rutin makan nasi dua kali sehari. Pada hari minggu mereka makan dua kali sehari makan sebelum pergi ke gereja dan pada malam harinya. Pada saat makan sedang berlangsung tidak boleh ngomong-ngomong karena marah “Sobawi” (yang<span>  </span>selalu menegur anggota keluarga bila melalaikan ketertiban di rumah).</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left:0;text-align:left;text-indent:0;" align="left"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Makanan nasi ini lebih tinggi nilainya dari pada makanan yang lain. Bila makan tidak boleh tersisa dan dibuang begitu saja. Kemudian kalau dimasak harus pakai ukuran apakah Tumba (jumba), Hinaoya (liter), kata (tekong) dan lain-lain serta tidak boleh “Lafasösö” (dipadatkan) dalam periuk, tidak boleh dipukul-pukul pinggir periuk dengan sendok. Semua pantangan ini apabila tidak ditaati maka bisa berakibat marah “Sibaya Wache” (pemilik dari pada nasi tersebut) seandainya marah akibatnya bila menanam padi tidak subur dan tidak menghasilkan banyak buah serta banyak mendatangkan berbagai wabah penyakit dan bila dimasak “Lö mo’ösi” (artinya walaupun satu jumba dimasak tetapi hasil masakan nampak seperti satu liter).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">4. Kebiasaan suami-istri bila pergi bersama</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left:0;text-align:left;text-indent:0;" align="left"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Orang Nias pada masa dulu bila pasangan suami-istri itu pergi bersama mempunyai norma adat tertentu yang mana bila pergi bersama kemana saja baik ke ladang, ke sawah, pergi kepada paman atau pergi pada pesta-pesta selalu laki-laki di belakang dan perempuan di depan. Hal ini menunjukkan bahwa wanita itu adalah istrinya, yang wajar mendapat perlindungan dari berbagai gangguan, yang dicintai, yang dikasihani, serta menunjukkan rasa tanggung jawab sebagai suami. </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left:0;text-align:left;text-indent:0;" align="left"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Bila seseorang anak muda jalan bersama dengan saudaranya perempuan atau perempuan yang<span>  </span>lain tetapi mereka berjalan bersama laki-laki kebelakang dan perempuan kedepan itu adalah merupakan ejekan kepada orang yang melihat. Mereka mengatakan apakah mereka itu suami-istri? Atau kenapa orang itu pergi seperti suami istri? Ini juga suatu tanda kepada publik bahwa dari letak jalan seseorang mereka bisa mengetahui<span>  </span>bahwa itu adalah suami-istri.<span>   </span></span></p>
<h2 align="left"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;font-weight:normal;"> </span></h2>
<h2 align="left"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;font-weight:normal;">C. Penghormatan dengan kata “Ya’ahowu” dan “pemberian sirih” dalam porsi adat.</span></h2>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">    Menurut porsi adat perkawinan yang telah dituturkan dalam acara “Fanika Era-era mböwö” (suatu acara yang menguraikan tentang silsilah keturunan dari pada pihak penganten perempuan yang diberitahukan secara formal kepada pihak penganten laki-laki mulai dari famili terdekat sampai kepada yang terjauh serta beban-beban yang harus ditanggung dalam hidupnya sesuai dengan hubungan kekerabatan). “Hönö<span>  </span>mböwö no awai, Hönö mböwö no tosai” (ribuan jujuran sudah selesai, ribuan jujuran masih tersisa), artinya tanggung jawab terhadap mertua dan sanak famili dalam bentuk beban-beban tidak pernah putus sampai seumur hidup.<span>  </span>Karena itu kemampuan penghormatan dengan harta benda sangat terbatas dalam bentuk “Böwö”, maka diberi kelonggaran untuk mengatasi hal tersebut, yaitu jangankan penghormatan dengan harta materi tetapi penghormatan dengan kata-kata sapaan “Ya’ahowu” dan “Fame’e afo” (pemberian sirih) kepada “Sitenga bö,ö” dan lain-lain, maka itu sudah cukup yang setara nilainya dengan empat alisi babi, dan dianggap sudah<span>  </span>lunas utangnya yang telah dituturkan dalam acara “Fanika era-era mböwö”. Dewasa ini kebiasaan tersebut sudah<span>  </span>tidak ada lagi, penghormatan berupa harta materi maupun penghormatan dengan kata-kata sudah hampir tidak ada lagi. Kita tidak tau bahwa dari kata-kata kita itu sudah ada nilainya yang lebih dari “böwö” atau makanan. Inilah yang dikatakan “Ho maigö ami li moroi ba gö” artinya dengan penghormatan kata-kata itu sudah cukup senang dan berharga.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">D. Penutup.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">    Bila kita cermati pada saat sekarang ini bahwa sapa menyapa tidak lagi diperdulikan, masing-masing egois, tidak memperhatikan sesama. Kebiasaan saling menghormati lewat kata sapaan, pemberian sekapur sirih hampir tidak dilakukan lagi karena kedudukan sirih sudah digantikan dengan sigarette. Walaupun hal ini masih terdapat di dusun-dusun yang tidak cepat mengalami perkembangan zaman. Tata krama dari keluarga sampai pada umum sudah terkontaminasi dari berbagai perkembangan dan situasi yang sedang kita jalani yang akibatnya rasa kekeluargaan sulit dilaksanakan lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Media Warisan Edisi No. 23 Tahun II Desember 2001</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Penulis: <strong>Arozanolo Gulö, A.Md</strong>.</span></p>
<p align="right"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Staf Museum Pusaka Nias</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/mediawarisan.wordpress.com/7/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/mediawarisan.wordpress.com/7/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mediawarisan.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mediawarisan.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mediawarisan.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mediawarisan.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mediawarisan.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mediawarisan.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mediawarisan.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mediawarisan.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mediawarisan.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mediawarisan.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mediawarisan.wordpress.com&blog=1420810&post=7&subd=mediawarisan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mediawarisan.wordpress.com/2001/12/01/adat-orang-nias-dalam-kehidupan-sehari-hari/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>